Jalan 6 Pekan, PPKM Kurangi Jumlah Kasus Aktif di Jakarta, Banten, dan Jatim

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 25 Februari 2021 07:01
Jalan 6 Pekan, PPKM Kurangi Jumlah Kasus Aktif di Jakarta, Banten, dan Jatim
Penurunan kasus aktif di tiga provinsi ini cukup signifikan.

Dream - Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah berjalan enam pekan dan dilanjutkan dua pekan ke depan. Satgas Penanganan Covid-19 melaporkan kebijakan PPKM menunjukkan hasil cukup efektif menekan penyebaran kasus Covid-19.

Ketua Bidang Data, Teknologi, dan Informasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, menjelaskan PPKM tahap I dan II serta PPKM Mikro yang telah berjalan selama enam pekan bisa menekan jumlah kasus aktif di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Timur.

" DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Timur ini luar biasa effort-nya karena dalam waktu enam pekan bukan hanya menurunkan proporsinya saja, tapi jumlah kasus akhirnya juga berhasil ditekan," ujar Dewi dalam diskusi " Covid-19 Dalam Angka: Perkembangan Pelaksanaan PPKM Mikro" di Grha BNPB, Rabu 14 Februari 2021.

Dewi menjelaskan sebelum PPKM diberlakukan, ada sekitar 18.199 jumlah kasus aktif di DKI Jakarta. Tetapi sejak sejak 22 Februari 2021, angka ini berhasil ditekan hingga 13.193 kasus aktif.

 

 

1 dari 5 halaman

Jatim dan Banten

Begitu pun dengan Jatim. Dalam enam pekan pemberlakuan PPKM, Jatim berhasil yang berhasil 6.485 kasus aktif menjadi 4.041 pasien.

Di Banten, meskipun proporsi persen angka kasus aktifnya terkesan tinggi dibanding yang lain namun secara jumlah angkanya justru tidak demikian. Sebelum PPKM, jumlah kasus aktif sebesar 9.302 dan dapat ditekan hingga 6.531 pasien.

" Kita harapkan bukan hanya penurunan persentase, tetapi juga penurunan jumlah kasus aktif ini pencapaian yang jauh lebih baik lagi," kata Dewi.

Laporan: Silmi Safriyantini

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 5 halaman

Guru dan Dosen Divaksin, Jokowi Harap Belajar Tatap Muka Mulai Semester II 2021

Dream - Secara bertahap, vaksinasi nasional Covid-19 telah dijalankan kepada sejumlah profesi. Hari ini, Rabu 24 Februari 2021, vaksinasi terhadap guru dan dosen resmi dimulai.

Para guru dan dosen di seluruh DKI Jakarta menerima vaksinasi di SMAN 70 Jakarta. Untuk selanjutnya vaksinasi bagi guru dan dosen digelar di seluruh provinsi.

Presiden Joko Widodo menyempatkan waktu meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di SMAN 70 Jakarta. Jokowi mengatakan guru dan tenaga kependidikan termasuk kelompok yang diprioritaskan.

" Tenaga pendidik, kependidikan, guru, ini kita berikan prioritas agar nanti di awal semester kedua (2021) pendidikan tatap buka bisa kita mulai lakukan," ujar Jokowi, disiarkan channel YouTube Sekretariat Presiden.

 

3 dari 5 halaman

Vaksinasi Tenaga Pendidik Sampai Juni

Jokowi menargetkan vaksinasi untuk tenaga kependidikan bisa rampung pada Juni 2021. Selain itu, ditargetkan pula sebanyak 5 juta guru dan dosen bisa seluruhnya mendapatkan vaksin.

" Sehingga di bulan Juli saat mulai ajaran baru semuanya bisa berjalan normal kembali. Saya kira targetnya itu," kata Jokowi.

Vaksinasi ini diikuti oleh guru, dosen dan tenaga kependidikan pada seluruh jenjang kependidikan. Termasuk pula para tutor paket A, B, dan C.

Secara rinci, para peserta vaksinasi terdiri dari 50 guru PAUD, 90 guru SD, 70 guru SMP, 111 guru SMA, 50 guru SMK, 25 guru SLB, 50 guru madrasah, 130 dosen, 24 tutor, serta 50 orang dari organisasi guru.


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

 

4 dari 5 halaman

Catat! Antibodi Covid-19 Baru Terbentuk 28 Hari Usai Vaksinasi Dosis Kedua

Dream - Vaksinasi menjadi salah satu jalan untuk mengendalikan Covid-19 dan saat ini sedang digalakkan Pemerintah. Di masa-masa awal, Pemerintah menggunaan vaksin buatan Sinovac untuk memicu kekebalan tubuh.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan antibodi tidak bisa langsung terbentuk begitu tubuh disuntik dengan vaksin. Tubuh membutuhkan waktu agar imunitas baru dapat terbentuk secara optimal

" Imunitas baru yang akan terbentuk sebagai vaksinasi Covid-19 itu akan terbentuk setelah 28 hari penyuntikan dosis kedua," ujar Nadia, disiarkan channel YouTube Kementerian Kesehatan RI.

Vaksinasi harus dilakukan sebanyak dua kali penyuntikan. Menurut Nadia, suntikan pertama berfungsi sebagai pemicu respons kekebalan tubuh awal dan suntikan kedua menguatkan respons.

" Jadi memang membutuhkan waktu untuk tubuh kita membentuk antibodi yang optimal dengan dua kali penyuntikan dan rentang waktu 28 hari," kata Nadia.

5 dari 5 halaman

Vaksin Dapat Mencegah Kejadian Berat

Nadia juga menjelaskan meskipun sudah divaksin, risiko tertular Covid-19 masih ada. Namun demikian, vaksin yang masuk ke dalam tubuh dapat mencegah terjadinya kondisi berat.

" Sehingga penyakit dapat kita hindari dan kalaupun kita harus sakit, sakitnya ini bukan sakit yang dengan gejala berat ataupun parah," kata Nadia.

Lebih lanjut, Nadia mengingatkan vaksin bukan cara utama menghilangkan pandemi. Protokol kesehatan tetap harus dijalankan untuk memutus penularan Covid-19 dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

Beri Komentar