Imron Ichwani, Anak Tukang Bubur yang Jadi Taruna Akmil

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 8 Agustus 2018 07:01
Imron Ichwani, Anak Tukang Bubur yang Jadi Taruna Akmil
Imron membuktikan keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk mengabdi pada negara.

Dream - Menjadi perwira TNI merupakan mimpi besar sebagian generasi muda Indonesia. Tanpa memandang latar belakang ekonomi, setiap pemuda bisa memulai karir di bidang kemiliteran.

Hal itulah yang coba dibuktikan oleh Imron Ichwani. Anak dari tukang bubur keliling di Purbalingga, Jawa Tengah ini dinyatakan lolos seleksi Calon Prajurit Taruna (Capratar) Akademi Militer 2018 dan siap menempuh pendidikan di Magelang.

" Imron Ichwani sudah membuktikan bukan hanya anak orang tertentu yang bisa menjadi taruna Akmil," ujar Komandan Kodim 0702 Purbalingga, Letkol Inf Andy Bagus, dikutip dari Liputan6.com.

 Imron Ichwani menjalani pemeriksaan fisik disaksikan Panglima TNI© Liputan6.com

Imron merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Dia bersama orangtua dan kakak-adiknya tinggal di Jalan Cempaka RT 03/06 Desa Selabaya, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga.

Ayah Imron, Sugeng Suroso, berprofesi sebagai pedagang bubur ayam keliling. Pendapatan Sugeng setiap harinya rata-rata Rp50 ribu.

 

 

1 dari 2 halaman

Hari Bersejarah

Bagi Sugeng, Sabtu, 28 Juli 2018 merupakan hari bersejarah baginya dan keluarganya. Di hari itu, Imron menyampaikan kabar gembira lolos seleksi Taruna Akmil Magelang lewat sambungan telepon.

Dua hari kemudian, Imron pergi ke Bandung. Dia diwajibkan mengambil pakaian dan perlengkapan lainnya.

 Keluarga Imron Ichwani© Liputan6.com

Tak banyak harapan yang disematkan Sugeng pada anaknya. Doa yang selalu dia panjatkan, Imron dapat tumbuh menjadi anak berbakti pada orangtua dan berguna bagi masyarakat.

" Saya dan keluarga sangat senang dan bangga karena Imron memang anak yang rajin, taat pada orangtua dan tekun beribadah," kata Sugeng.

 

2 dari 2 halaman

Berprestasi dan Rajin Ibadah

Sugeng menuturkan Imron adalah anak yang berprestasi di sekolah dan aktif berorganisasi. Sejak SD hingga SMA, Imron kerap mengikuti lomba sampai olimpiade matematika.

 Ayah Imron jualan bubur ayam© Liputan6.com

Saat duduk di bangku SMA, Imron harus tinggal bersama kakeknya di Purwokerto. Sebab, dia tidak mungkin berangkat sekolah dari rumah orangtuanya di Purbalingga. Jaraknya sangat jauh.

Menurut Sugeng, putranya sempat punya keinginan untuk masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Bersama 16 temannya, Imron memutuskan mendaftarkan seleksi penerimaan Taruna Akmil.

" Awalnya bercita-cita masuk STAN, akhirnya memutuskan untuk mendaftar menjadi Akmil bersama 16 temannya," ucap Sugeng.

(ism, Sumber: Liputan6.com/Galoeh Widura)

Beri Komentar