Bocah 13 Tahun Meninggal Terjangkit Virus Corona Tanpa Gejala

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 2 April 2020 14:07
Bocah 13 Tahun Meninggal Terjangkit Virus Corona Tanpa Gejala
Ismail sempat mengalami kesulitan bernapas.

Dream - Ismail Mohamed Abdulwahab, bocah 13 tahun dilaporkan meninggal akibat virus corona. Dia dinyatakan sebagai korban paling muda di Inggris.

Dikutip dari Aljazeera, keluarga mengatakan Ismail tidak menunjukkan tanda-tanda terpapar virus ini.

" Ismail baru menginjak usia 13 tahun tanpa adanya kondisi kesehatan yang serius dan sangat disayangkan ia meninggal tanpa ada anggota keluarga di sisinya karena sifat infeksi Covid-19 yang tinggi," ujar pihak keluarga Ismail.

Awalnya, Ismail sempat mengalami kesulitan bernapas. Bocah itu langsung dilarikan ke RS King's College di London.

" Dia dipasangi ventilator dan mengalami koma, keesokan harinya pada Senin pagi, ia meninggal dunia. Kami sekeluarga sangat berduka," jelas pihak keluarga.

 

1 dari 5 halaman

Donasi Pemakaman

Pada Rabu pagi, situs GoFundMe menggalang dana untuk menggelar pemakaman Muslim bagi Ismail. Terkumpul sekitar 51 ribu pounds, setara Rp1 miliar dengan jumlah donatur sebanyak 2.700 orang.

Pihak rumah sakit King's College menyatakan turut berduka atas meninggalnya Ismail yang masih berumur 13 tahun.

Seperti yang diketahui, virus corona lebih banyak menyerang orang di usia lanjut dengan kondisi kesehatan buruk ketimbang anak-anak.

Harian Italia, La Repubblica, melaporkan Luca Di Nicola, seorang asisten koki di Italia berumur 19 tahun telah meninggal pada 24 Maret 2020. Ayah Di Nicola mengatakan sang anak tidak memiliki riwayat kesehatan yang buruk.

Di Inggris sendiri, setidaknya sebanyak 2.352 orang telah meninggal setelah dinyatakan positif terjangkit virus corona.

Rabu kemarin, Inggris menncatatkan hampir 563 korban tewas akibat Covid-19 dalam kurun waktu 24 jam.

Laporan: Razdkanya Ramadhanty

2 dari 5 halaman

Bocah 11 Tahun di Madura Jadi Pasien Termuda Meninggal Akibat Corona

Dream - Seorang bocah perempuan umur 11 tahun asal Madura meninggal akibat terjangkit virus corona. Bocah ini menjadi pasien termuda yang mati akibat Covid-19 di Indonesia.

Dikutip dari The Straits Times, dokter menyatakan bocah perempuan itu juga terjangkit demam berdarah dengue. Dia sempat menjalani perawatan di rumah sakit pada 19 Maret. Dia meninggal keesokan harinya.

Selama dirawat, bocah tersebut mengalami demam tinggi dan kesulitan bernapas. Diagnosa awal diduga meninggal karena demam berdarah.

Petugas medis mengambil sampel cairan dari tubuh bocah tersebut untuk diuji di laboratorium. Sepekan setelah kematiannya, hasil lab menunjukkan bocah itu positif terjangkit virus corona.

" Sistem imunnya sangat lemah," ujar salah satu anggota Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 di Jawa Timur, Joni Wahyuhadi.

" Dia harus melawan dua penyakit sekaligus, jadi itu sebabnya kondisinya memburuk," kata dia.

Angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia pada Rabu, 1 April 2020 tercatat sebanyak 157 kasus. Jumlah tersebut termasuk 11 dokter yang berjuang di garis terdepan dalam pencegahan corona.

Total kasus positif terinfeksi mencapai 1.677 pasien. Sedangkan jumlah pasien sembuh sebanyak 103 orang.

Tetapi, para ahli kesehatan dunia khawatir jumlah kasus Indonesia yang sebenarnya jauh lebih banyak. Ini lantaran tingkat pengujian yang rendah bahkan masih banyak kasus positif yang belum dites.

Virus ini memang sangat berbahaya bagi lanjut usia (lansia). Tetapi, sejumlah kasus di dunia menunjukkan cukup banyak pasien usia muda yang sekarat akibat Covid-19.

3 dari 5 halaman

Negara Berjarak 200 Km dari Papua Barat Ini Belum Tersentuh Virus Corona

Dream - Penyebaran virus corona yang menyebabkan Covid-19 boleh dibilang hampir merata di seluruh dunia.

Namun ada satu dua tempat di Bumi yang hingga saat ini masih belum 'tersentuh' virus yang belum ada obatnya itu.

Salah satunya adalah sebuah negara kepulauan bernama Palau yang terletak di utara Maluku dan Papua.

Negara dengan populasi 18.000 jiwa ini masih jadi salah satu tempat di Bumi yang melaporkan nol kasus Covid-19.

4 dari 5 halaman

Berjarak Hanya 200 Km dari Papua Barat

Hanya 200 kilometer sebelah utara Provinsi Papua Barat, 255 km sebelah timur Provinsi Maluku Utara, dan 500 km sebelah timur Provinsi Sulawesi Utara, Republik Palau dikelilingi oleh Samudera Pasifik yang luas. Lautan luas tersebut seolah bertindak sebagai benteng dari serangan virus corona.

Dibarengi dengan pembatasan perjalanan yang ketat, posisi Palau sangat strategis bagi sejumlah warga negara tetangga untuk mengisolasi diri.

Warga dari negara-negara Kepulauan Pasifik seperti Tonga, Kepulauan Solomon, Kepulauan Marshall, dan Mikronesia menjadikan Palau sebagai tempat melarikan diri sementara dari virus corona.

5 dari 5 halaman

Berharap Tidak Seperti Wuhan dan New York

Tapi posisi Palau yang terpencil ini tidak menjadikannya 'kebal' dari serbuan virus corona. Negara tetangga Kepulauan Mariana Utara mengkonfirmasi kasus pertama selama akhir pekan, diikuti oleh dugaan kematian pada hari Senin, 30 Maret 2020.

Klamiokl Tulop, artis berusia 28 tahun dan ibu tunggal di Palau, berharap negaranya tidak mengalami nasib seperti Wuhan, New York, atau Madrid.

Tulop menggambarkan rasa takut akan Covid-19 yang semakin besar di negaranya. Ketakutan bahwa virus itu akan datang atau mungkin sudah ada di negara kepulauan itu tanpa terdeteksi.

" Anda bisa merasakan ketegangan dan kecemasan yang meningkat hanya dengan berbelanja. Toko-toko semakin ramai meski di saat warga diminta mengisolasi diri," katanya.

Ketakutan Tulop mungkin beralasan. Karena ada sebuah kasus seorang warga yang ditempatkan di karantina minggu ini sementara pihak berwenang menunggu hasil tesnya.

Beri Komentar