Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Dokter dan ilmuwan di seluruh dunia berusaha mencari cara untuk menghentikan penularan virus corona baru yang menyebabkan Covid-19.
Terbaru, para pasien Covid-19 diberi vitamin C dengan dosis yang tinggi sebagai salah satu cara efektif untuk menyembuhkan penyakit yang belum ada obatnya ini.
Tetapi, beberapa ahli medis memperingatkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung vitamin C dengan dosis tinggi sebagai pengobatan yang valid untuk membendung Covid-19.
Sebelumnya, Newsweek melaporkan pada hari Kamis, 26 Maret 2020, bahwa vitamin C dengan dosis tinggi diberikan kepada pasien Covid-19 di rumah sakit di New York, Amerika Serikat.
Menurut laporan majalah AS itu, vitamin C disuntikkan ke pasien dalam dosis yang jauh lebih tinggi dari normal. National Institutes of Health (NIH) merekomendasikan dosis untuk pasien laki-laki sebanyak 90 miligram per hari. Sedangkan untuk pasien wanita dosisnya mencapai 75 miligram per hari.
Perawatan serupa juga sedang diuji coba di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei di China, yang menjadi tempat pertama kalinya virus corona baru terdeteksi.
Rumah Sakit Union, yang merupakan tempat merawat pasien Covid-19 parah dalam jumlah besar di Wuhan, mengatakan pihaknya juga telah mencoba terapi tersebut.
" Kami juga melakukan terapi itu, bersama dengan obat lainnya karena sebagian besar dari mereka dalam kondisi parah," kata Profesor Liu Shi, dokter di RS Union.
Menurut Profesor Liu, pemberian vitamin C dengan dosis tinggi masih aman dibandingkan dengan vitamin lainnya. Tidak seperti vitamin A dan D, vitamin C tidak akan menyebabkan keracunan jika dikonsumsi dalam dosis tinggi.
" Karena vitamin C mudah larut dalam air sehingga dapat diekskresikan (dikeluarkan dari tubuh) dengan mudah," tambahnya.
Vitamin C sering disarankan sebagai suplemen makanan untuk orang yang terserang selesma, tetapi tidak dianggap sebagai obat untuk penyakit seperti influenza.
Sementara itu, Profesor Yang Jinkui, dari Rumah Sakit Tongren di Beijing, mengatakan tidak ada bukti ilmiah yang mendukung penggunaan vitamin C sebagai obat terapi penderita Covid-19.
Setiap saran yang mengatakan bahwa vitamin C bisa menjadi obat yang efektif untuk Covid-19 adalah 'sama sekali tidak berdasar'.
" Dalam pemahaman saya, itu mungkin berfungsi sebagai plasebo karena belum ada obat khusus untuk penyakit baru ini,” kata Yang.
Wang Xiaogang, seorang dokter di Rumah Sakit Beijing, yang telah merawat pasien Covid-19 di Wuhan, pun sependapat dengan Yang.
" Tidak ada bukti klinis untuk membuktikan bahwa vitamin C benar-benar membantu. Ini adalah sesuatu yang sia-sia," kata Wang.
Sumber: SCMP
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya