Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Penyakit kanker pada anak memiliki kemungkinan kesembuhan dan harapan hidup yang tinggi. Hal tersebut jika penanganannya dilakukan secara cepat serta metode pengobatan yang efektif.
Dalam mendeteksi kanker, dibutuhkan dokter yang memiliki kepekaan terhadap gejala-gejala kanker pada anak.
Berbeda dengan orang dewasa yang menggunakan metode skrining untuk mendeteksi dini kanker pada anak, deteksi kanker dilakukan menggunakan metode clinical finding.
Clinical finding adalah mendeteksi penyakit dari temuan gejala. Gejala dideteksi dan menemukan jenis kanker. Dokter spesialis anak Mururul Aisyi mengatakan, ada perbedaan antara skrining dan clinical finding.
" Skrining itu lebih tepatnya mnecegah sesuatu yang belum terjadi (terkait adanya potensi kanker atau tidak). Kalau clinical finding itu menemukan sesuatu dari gejala yang sudah ada," kata Aisyi yang berpraktik di RS Dharmais saat diskusi 'Kenali Gejala Dini Kanker Anak' di Kementerian Kesehatan, Jakarta pada Selasa, 17 Oktober 2018.
Skrining tidak bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker pada anak. Hal ini karena ena skrining, seperti pap smear (untuk mendeteksi kanker leher rahim) ditujukan untuk kasus orang dewasa.
" Pada kasus anak tidak bisa dilakukan skrining. Yang bisa dilakukan pada anak adalah clinical finding. Jadi, ada gejala kanker, lalu kita temukan penyakitnya dan obati," tambah Aisyi.
Pada anak, pengobatan kanker juga harus dipertimbangkan. Tidak sembarangan untuk memberikan kemoterapi, terlebih lagi pada bayi yang menderita kanker.
" Pada bayi yang kena kanker, tergantung kasusnya ya. Apakah dia butuh kemoterapi atau tidak. Misalnya, dia alami leukemia kongenital--leukemia yang terdeteksi setelah lahir. kami akan sesuaikan kondisi pasien, perlu kemoterapi atau tidak. Kalau pada bayi sih kasusnya jarang sekali terjadi," ungkap Aisyi.
Aisyi menceritakan, pasien termuda yang ditangani berusia 8 bulan dan menderita kanker." Waktu itu, dia ditangani dengan kemoterapi dan survive (bertahan hidup) sampai sekarang. Alhamdulillah, setelah diberikan kemoterapi, kemajuannya efektif," ujarnya.
Sumber: Fitri Haryanti/ Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya