JK: Suara Azan Jangan Terlalu Keras

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 24 Agustus 2018 09:01
JK: Suara Azan Jangan Terlalu Keras
JK menilai seharusnya keluhan Meiliana tidak dibawa ke ranah pidana.

Dream - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan agar setiap masjid tidak mengumandangkan azan dengan suara terlalu keras. Sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), JK juga mengimbau agar azan dilantunkan tidak terlalu lama.

Menurut JK, DMI telah membuat ketentuan terkait azan. Sebelum azan, diperdengarkan bacaan Alquran selama lima menit.

" Saya ketua Dewan Masjid, menyerukan dan meminta kepada masjid-masjid untuk membatasi waktu pengajian jangan lebih dari lima menit dan azan tiga menit," ujar JK, dikutip dari merdeka.com.

Terkait vonis 18 bulan penjara yang dialami Meiliana, JK mengaku mengetahui hal itu. Tetapi, JK mengatakan tidak mengetahui bagaimana duduk perkara yang sebenarnya.

1 dari 4 halaman

Setuju Volume Azan Tidak Terlalu Keras

Jika volume azan yang menjadi persoalan, JK setuju agar tidak terlalu kencang. Apalagi mengingat jarak masjid dan mushola di Indonesia kebanyakan tidak terlalu jauh.

" Intinya adalah bahwa memang kita sudah meminta masjid itu jangan terlalu keras. Suara azannya. Jangan melampaui masjid yang satu. Ya karena itu jangan terlalu keras," kata JK.

 Wawancara Wapres Terpilih Jusuf Kalla -- TAHAN

Selanjutnya terkait kasus yang menjerat Meiliana, JK menilai tidak tepat dibawa ke ranah pidana. Menurut JK, merupakan kewajaran jika seorang warga meminta agar volume azan dikecilkan dengan alasan terganggu.

" Dewan masjid saja menyarankan jangan terlalu keras gitu kan. Meminta jangan terlalu keras dan jangan terlalu lama," ucap JK.

2 dari 4 halaman

Meliana Divonis 18 Bulan Penjara, Ini Kata Menag

Dream - Kasus Meliana, warga Tanjungbalai, Sumatera Utara yang dijatuhi hukuman 18 bulan tahanan menyedot perhatian publik. Meliana harus mendekam di penjara akibat dituduh melakukan penistaan agama karena meminta volume speaker masjid dipelankan ketika azan.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin turut buka suara atas kasus ini. Menurut Lukman, terjadi penerapan pasal penistaan agama yang keliru dalam kasus Meliana.

" Hemat saya, mestinya penerapan Pasal 156a UU 1/PNPS/1965 dalam kasus Ibu Meliana tak bisa berdiri sendiri, karena harus dikaitkan dengan konteks Pasal 1 UU tsb," tulis Lukman di akun Twitternya, @lukmansaifuddin, diakses pada Kamis 23 Agustus 2018.

Pasal yang dimaksud adalah berikut:

Pasal 156a
Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:
a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalah-gunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

Sedangkan Pasal 1 berbunyi
Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu
agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan
mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

 

3 dari 4 halaman

Vonis Meliana

Dream - Meliana divonis bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan yang dipimpin Hakim Ketua Wahyu Prasetyo Wibowo. Dalam sidang pada Selasa kemarin, Meliana telah melanggar pasal 156a.

" Atas perbuatannya, terdakwa dijatuhi hukuman pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan, dikurangi masa tahanan," ujar Wahyu membacakan amar putusan, dikutip dari Liputan6.com.

Meliana bersama kuasa hukumnya berencana mengajukan banding. Vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim sesuai dengan tuntutan jaksa.

 

4 dari 4 halaman

Kronologi Kasus

Dream - Kasus ini bermula pada Jumat 22 Juli 2016. Waktu itu, Meliana mendatangi tetangganya. Dia meminta agar tetangganya menegur pengurus masjid untuk mengecilkan volume speaker masjid yang biasa untuk azan.

Meliana merasa terganggu akibat suara azan yang terlalu keras. Keluhan terebut kemudian disampaikan kepada Badan Kesejahteraan Masjid Al Maksum. Tidak jauh dari rumahnya.

Keluhan itu disampaikan ke pengurus masjid hari itu juga sekitar pukul 19.00 WIB. Sempat terjadi dialog bahkan perdebatan antara pengurus masjid dengan Meliana di rumah wanita itu.

Pengurus masjid kemudian pergi untuk sholat Isya. Suami Meliana, Lian Tui, menyusul ke masjid untuk meminta maaf.

Sayangnya, kejadian ini terlanjur menjadi tersebar dan menjadi perbincangan. Sejumlah warga datang berbondong-bondong. Mengamuk dan merusak rumah Meliana.

Kekerasan meluas dengan pengrusakan kelenteng hingga sejumlah kendaraan. Meliana kemudian dilaporkan ke polisi. (ism)

Beri Komentar
Perjuangan Ria Irawan, Pantang Menyerah Lawan Kanker