Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Dream - Kementerian Agama mendapati temuan tidak lazim dalam ibadah haji dan umroh yang dilakukan para jemaah asal Indonesia. Beberapa contohnya seperti melantunkan syair di luar doa yang dianjurkan selama berada di Mekah, Arab Saudi.
Temuan itu mendorong Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kemenag menggelar Bahtsul Masail Perhajian. Forum ini membahas persoalan pembacaan doa manasik haji dan umroh di luar doa ma'tsur (terbaik).
" Akhir-akhir ini muncul dinamika di masyarakat dalam manasik umroh yang tidak lazim dan tidak sesuai dengan 'Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umroh' yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, yaitu adanya sekelompok jemaah pada saat Sa'i membaca doa selain doa ma’tsur," kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Nizar, dikutip dari haji.kemenag.go.id, Selasa, 20 Maret 2018.
Nizar mengatakan forum ini merupakan sarana menyamakan persepsi menyikapi persoalan yang terjadi di seputar haji dan umroh.
" Saya sangat mengharapkan agar forum yang terhormat ini benar-benar dijadikan sarana untuk memantapkan kembali dan menyamakan persepsi dalam menyikapi persoalan haji dan umroh," kata Nizar.
Tak hanya itu, Nizar juga berharap bahtsul masail ini menghasilkan rekomendasi terkait tema. Rekomendasi tersebut nantinya akan menjadi pertimbangan bagi Kemenag untuk menerbitkan rujukan penyelenggaraan haji dan umroh.
Menurut Nizar, pelaksanaan ibadah haji dan umroh tidak bisa lepas dari perbedaan cara pandang berdasarkan mazhab fikih. Perbedaan ini menimbulkan penafsiran yang dapat mempengaruhi perilaku para jemaah.
" Kesemuanya itu memerlukan pembahasan bersama guna penyamaan persepsi dan mencari solusi di kalangan ulama dan ahli hukum Islam, praktisi haji dan pembimbing haji, sehingga dapat diinformasikan kepada jemaah haji Indonesia dengan benar dan penuh hikmah," ucap Nizar.
(Sah)
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha