Kisah Para Pahlawan Covid-19 Indonesia

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 24 September 2020 09:01
Kisah Para Pahlawan Covid-19 Indonesia
Mereka tak lari dari gelanggang. Mengorbankan nyawa. Inilah kisah para perawat tangguh Indonesia.

Dream – Puluhan orang berderet. Mengular, menguasai kanan kiri jalan. Semua bermasker. Berseragam biru langit. Mereka berdiri tegak, memberi penghormatan.

Dari dalam gedung, sebuah ambulans putih keluar. Melaju pelan, melintasi orang-orang yang mematung. Sirine terus meraung. Memecah kebisuan itu.

Di dalam ambulans itu, terbaring jenazah Shelly Ziendia Putri. Perawat yang wafat dalam status Pasien Dalam Pengawasan Covid-19. Sebagai PDP. Itulah penghormatan terakhir rekan sejawat untuk Shelly.

Shelly merupakan perawat ke-16 yang wafat karena Covid-19. Sejak pandemi melanda, sudah 85 perawat di Indonesia gugur akibat Covid-19. Lainnya positif. Mereka rebah terinfeksi corona.

 
 
 
View this post on Instagram

Pengormatan kepada Perawat AGD DINKES 119 DKI Jakarta Pejuang Covid-19 yang meninggal dunia pada Minggu, 19/4/2020. Semoga amal dan ibadahnya diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran ???? . Untuk info terkini di Jakarta..? . Follow @jakarta.terkini Follow @jakarta.terkini Follow @jakarta.terkini ???? . Jakarta terkini, dekat dengan Jakarta! . Credit by: @toniaryaagung . . . . #jakartaterkini #jakartainfo #infojakarta #jakarta #jakartabarat #jakartaselatan #jakartatimur #jakartapusat #jakartafood #jakartautara #jakartaevent #jktinfo #jakartaphotographer #jakartaonlineshop #jakartaphotography #jakartans #jakartahits #explorejakarta #persijajakarta #persija #persijaday #lokerjakarta #muajakarta

A post shared by Jakarta Terkini (@jakarta.terkini) on

Lihatlah data PPNI. Pada 16 September, organisasi profesi perawat itu mencatat ribuan anggotanya positif Covid-19. Di DKI, 1.629 perawat positif. Di Jawa Timur 848. Sulawesi Selatan 350. Daerah lain angkanya juga bikin ngelus dada.

Seperti dokter, perawat memang sangat rentan tertular corona. Mereka paling sering kontak dengan pasien Covid-19. Perawat bekerja tiga shift sehari. Rerata delapan jam dalam sehari bertemu pasien corona.

Shelly misalnya. Personel tim Ambulans Gawat Darurat (AGD) Dinas Kesehatan DKI Jakarta itu saban hari mengantar pasien corona ke rumah sakit rujukan. Hampir selalu semobil dengan para pasien Covid-19. Dia akhirnya terinfeksi virus corona pada April lalu.

Dara ayu itu sempat dirawat di Rumah Sakit Simpang, Depok. Dia wafat di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Minggu 19 April 2020. Dua hari setelah dirujuk.

Tugas Shelly purna sudah. Senin siang itu, giliran Shelly diantar ambulans. Pejuang Covid itu dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

1 dari 4 halaman

Pandemi Covid-19 memang sudah berbulan-bulan. Tapi belum kunjung ada tanda mereda. Kasus baru terus bertambah. Ribuan orang terinfeksi dalam sehari. Di Indonesia sudah lebih seperempat juta orang terjangkit. Korban meninggal nyaris sepuluh ribu.

Itu artinya, tugas perawat, juga dokter, belum usai. Jangan dikira hanya kita yang bosan karena terus tinggal di rumah agar tak tertular corona. Tenaga kesehatan pun sama. Mereka juga sudah lelah.

“ Kalau saya coba wawancara, mereka itu bertanya, ‘Apa ada enggak sih harapan untuk selesai pandemi ini?’,” kata Ketua Umum PPNI, Harif Fadillah, saat berbincang dengan Dream.

Pengorbanan mereka memang besar. Lihatlah ruangan mereka. Penyejuk udara boleh saja menyala. Namun udara dingin nyaris tak terasa. Tak bisa menembus hazmat yang harus dikenakan saban tugas. Baju perang itu tak boleh dilepas selama bekerja. Sudah SOP. Jadilah keringat mengucur, bak sauna.

Bagi banyak orang, pulang ke rumah adalah kebahagiaan. Tapi sejak pandemi, tidak demikian untuk perawat. Mereka bingung. Dilema. Melangkahkan kaki ke rumah terasa sangat berat. Bahkan ada yang berbulan-bulan tak ketemu keluarga. Mereka takut membawa virus dan menularkan kepada orang tercinta.

Belum lagi stigma dari masyarakat. Sudah banyak kisah perawat dijauhi masyarakat. Bahkan sampai diusir dari kontrakan. Berat memang. Tapi, kata Harif, perawat tak akan mundur. Meski nyawa menjadi taruhannya. “ Memang berisiko, tapi harus dihadapi,” tegas Harif.

2 dari 4 halaman

Sebagian orang boleh saja tak percaya bahaya Covid-19. Silakan. Tapi bagi tenaga medis, hari-hari ini tidak mudah. Sangat sulit. Saban hari harus bertaruh nyawa. Meninggalkan orang-orang tercinta untuk setia merawat pasien Covid-19. Shelly merupakan salah satu contoh nyata.

Kepergian Shelly tentu meninggalkan duka. Tak hanya keluarga, tapi juga rekan sejawat. Datanglah ke akun Instagram Syarifah Sulaiman. Teman Shelly. Buka unggahan 19 April 2020. Maka akan ketemu foto kenangan dengan Shelly.

Syarifah mengenal Shelly sebagai sosok baik. Periang. Ulet. Peduli teman. Kini, semua kebaikan itu hanya jadi kenangan. “ Shel sekali lagi maafin gue ya, gue akan selalu sayang lo, semoga lo tenang di sisi Allah,” Syarifah mendoakan sahabatnya.

Shelly memang masih belia. Baru 24 tahun. Sebelum meninggal dara kelahiran Cilangkap itu bahkan sudah berencana menikah dengan pria bernama Isnu Wahyu Permana. Dia mengunggah foto-foto pertunangan yang digelar September tahun lalu itu ke Instagram.

3 dari 4 halaman

Persis sebulan setelah Shelly, giliran Ari Puspita Sari. Perawat Rumah Sakit Royal Surabaya itu juga meninggal karena Covid-19. Ari bahkan sempat viral melalui sebuah video memilukan di media sosial.

Dalam video itu, terlihat Ari didorong di atas brankar. Sejumlah alat medis terpasang, termasuk ventilator. Kondisinya kritis akibat infeksi corona. Teman-teman sejawatnya tak kuasa menahan tangis.

Ari sebenarnya sudah diminta cuti. Perawat asal Ngagel Mulyo itu memang sedang mengandung empat bulan. Sehingga dinilai riskan bila bekerja di masa pandemi. Namun, karena rasa tanggung jawab yang besar, Ari menolak. Dia tetap bekerja merawat pasien.

Sebenarnya, Ari tak menangani pasien Covid-19. Dia ditempatkan pada satuan yang dianggap paling aman. Tapi nyatanya, Ari tetap terpapar virus corona. Dia mengembuskan napas terakhir di RS Dr. Ramelan, Surabaya, 18 Mei 2020. Ari meninggal bersama janin dalam kandungannya.

4 dari 4 halaman

Shelly, Ari, dan perawat-perawat yang gugur itu adalah pahlawan. Mereka berani mengambil risiko di tengah pandemi Covid-19. Meski berbahaya, mereka tak lari dari gelanggang.

Shelly merupakan gadis yang sedang mekar. Jalan hidupnya seharusnya masih sangat panjang. Demikian pula dengan Ari. Dia sedang hamil. Janin dalam kandungan itu turut meninggal sebelum dilahirkan.

Terbaru, Winarsih. Perawat senior Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya itu tutup usia karena Cvid-19 pada Senin 21 September 2020, pukul 23.50 WIB.

Shelly, Ari, dan para tenaga medis yang gugur itu telah mengorbankan segalanya. Termasuk nyawa. Meninggalkan orang-orang terkasih mereka. Semoga amal ibadah Anda semua diterima Tuhan. Diampuni segala dosanya.

Kalian Pahlawan. Selamat jalan. Nama kalian harum....

Beri Komentar