Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Airin Rachmi Diany (Foto: @airinrachmidiany)
Dream - Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany menghadiri Peluncuran Buku Pedoman Perubahan Perilaku Penanganan Covid-19” di Media Center Satgas Covid-19 Graha BNPB Jakarta pada Jumat 16 Oktober 2020.
Walikota Airin menceritakan pengalamannya tujuh bulan memimpin masyarakat dalam situasi pandemi. Kedisiplinan masyarakat menerapkan protokol kesehatan itu harusnya menjadi kebutuhan bukan lagi kewajiban karena perintah undang-undang.
" Kalau sudah jadi kebutuhan, ada atau tidak ada polisi dan tentara, masyarakat tetap pakai masker. Bukan karena ada razia masker baru pakai," ujar Walikota Airin.
Dalam peluncurannya Airin menjadi orang pertama yang menerima buku “ Pedoman Perubahan Perilaku Penanganan Covid-19” yang diterbitkan oleh Satgas Penanganan Covid-19 ini.
Airin menjelaskan masyarakat sudah tahu 3M dan seperti apa menuju tatanan adaptasi kebiasaan baru. Tapi bagaimana menjalankan pengetahuan tentang protokol kesehatan sebagai kebutuhan dan kebiasaan ini yang perlu dilakukan.
" Ini PR (pekerjaan rumah) di lapangan agar masyarakat bisa terbiasa. Semoga buku yang disusun ini bisa memudahkan masyarakat dalam menerapkan kebiasaan baru ini," ungkapnya.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Timur Dr. dr. Joni Wahyuhadi, Sp.BS mengatakan pihaknya melakukan survei selama empat bulan di masa pandemi. Hasilnya pengetahuan masyarakat tentang Covid-19 cukup, perilaku baik, tapi dalam implementasinya tidak selalu baik.
Perubahan perilaku terhadap ketaatan protokol kesehatan, kata dr. Joni melalui Zoom, tidak cukup hanya sebatas tahu dan mengerti.
" Maka protokol kesehatan ditegakkan dengan melibatkan polisi dan tentara untuk menggelar operasi yustisi," kata dr. Joni dari Kantor Gubernur Jawa Timur di Surabaya.
Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan mengatakan buku ini ditunggu masyarakat sebagai acuan bersama dalam menerapkan perubahan perilaku di masa pandemi.
Lilik menjelaskan mulai dari bulan Maret sampai Oktober 2020 ini banyak perubahan yang berbeda-beda sehingga membingungkan masyarakat. Organisasi-organisasi masyarakat dan sejumlah lembaga membuat buku acuan tersendiri yang pemahamannya agak berbeda. Akibatnya ketika sosialisasi masyarakat menjadi bingung.
" Maka buku ini yang kita tunggu-tunggu sebagai acuan kita semua dari Sabang sampai Merauke, termasuk kami di BNPB," ujar Lilik melalui aplikasi zoom.
Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Dr. Sonny Hari B. Harmadi, selaku tim penyusun buku “ Pedoman Perubahan Perilaku Penanganan Covid-19”, menceritakan perbedaan persepsi yang muncul saat membahas strategi penanganan bersama tim pakar. Ia membayangkan perbedaan yang sama pun bakal dialami masyarakat. Guna menghindari itu, Sonny melanjutkan buku pedoman perubahan perilaku ini hadir untuk menyamakan persepsi.
" Makanya persepsi kita harus kita samakan, terutama bagi para pengambil kebijakan. Kami berkesimpulan perlu menyusun buku pedoman Perilaku yang baku dan berlaku untuk semua," ujar Dr. Sonny.
Dr. Sonny menjelaskan secara singkat isi buku saku ini berisi seputar perubahan perilaku. Apa dampaknya dan syaratnya. Buku ini melibatkan para pakar dari berbagai bidang disiplin ilmu seperti pakar kesehatan, sosiolog, antropolog, hingga ahli bahasa.
Lebih lanjut Dr. Sonny menjelaskan keterlibatan ahli bahasa dalam buku ini agar pesan yang disampaikan mudah diterima masyarakat.
" Bagaimanapun juga bahasa menjadi penting sebagai media komunikasi karena orang akan paham dengan menggunakan bahasa yang tepat," tuturnya.
Dream - Pandemi Covid-19 yang melanda Tanah Air, membuat berbagai aktivitas masyarakat terhenti, termasuk kegiatan belajar mengajar di beberapa pondok pesantren.
Klaster pesantren pun mulai bermunculan di beberapa kota seperti Cilacap, Banyuwangi, Bogor dan Tasikmalaya.
Dalam mencegah hal tersebut terjadi lagi, Satgas Penanganan Covid-19 menggelar kampanye perubahan perilaku di lingkungan pondok pesantren.
Sasarannya agar para santri dan pengajar di pondok pesantren tetap bisa beraktivitas dengan melakukan perubahan untuk menjalankan protokol kesehatan Covid-19 dan menerapkan kampanye Aman, Iman dan Imun.
Prof. Wiku Adisasmito Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Covid-19 mengatakan masyarakat harus waspada karena yang biasa menularkan adalah orang-orang terdekat.
" Seseorang bisa terpapar Covid dari orang di sekitarnya, bahkan keluarga. Menurut data, sekitar 7 persen orang justru terpapar Covid-19 saat berada di rumah. Kita harus menyadari Covid-19 sangat berbahaya, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta atau lansia, serta kelompok rentan," jelasnya dalam konferensi virtual, Jumat, 16 Oktober 2020.
Wiku mengimbau seluruh masyarakat yang berada di dalam pesantren menerapkan protokol kesehatan dengan 3M yakni menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun atau cairan pembersih tangan setelah berkegiatan.
Sementara, Dr. Sonny B. Harmadi Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 mengatakan, masyarakat harus ditempatkan untuk menjadi duta agen perubahan perilaku dalam memutus rantai Covid-19 dengan 3M Sementara untuk para petugas kesehatan, dengan menerapkan 3T, yaitu Testing (pemeriksaan), Tracing (pelacakan), dan Treatment (pengobatan).
Ia mengatakan, komponen masyarakat yang penting dalam mendorong perubahan perilaku adalah institusi pendidikan, termasuk pesantren melalui edukasi.
" Harapannya bisa menjadi teladan dan pengetahuan bagi masyarakat sekitar," kata Sonny.
Menurut Sonny, model pendidikan boarding school relatif lebih aman, karena mudah dilokalisir.
Ia mengimbau para pengelola pesantren agar menghindari aktivitas seperti makan minum bersama, alat makan, dan penggunaan fasilitas pribadi.
“ Upayakan penggunaan fasilitas pribadi seperti perlengkapan ibadah, sendiri-sendiri, cuci rutin. Pastikan semuanya bersih. Makanan dijaga, gizi seimbang, sosialisasi soal protokol kesehatan lewat poster di pintu-pintu,” katanya.
Sonny berpesan pada seluruh pesantren agar bisa menerapkan aturan ketat seperti yang dilakukan oleh pengurus Darunnajah dengan one get system.
" Jangan terlalu sering orang masuk keluar lingkungan pesantren. Jika pulang harus screening dengan baik. Pengajar harus ada di dalam pesantren, jangan keluar, karena berpotensi membawa virus ke dalam pesantren,” tutupnya.
Dr. KH. Sofwan Manaf, M.Si, pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta mengatakan, pihaknya telah melakukan pengawasan ketat di seluruh lingkungan pesantren dengan menerapkan one get system.
" Ada one get system di pesantren. Semua orang yang sudah sehat, bagaimana caranya tidak bisa keluar masuk lagi," jelasnya dalama acara virtual.
Ia menjelaskan, sekitar 8.000 santri di pesantren Darunnajah dan sebelumnya hanya ditemukan 1 kasus santri yang terjangkit dari keluarganya. Namun, langsung dibawa oleh petugas kesehatan.
" Ada 1 kasus, kena dari keluarga dan langsung dibawa. Seluruh penghuni pesantren langsung dites oleh dinkes. Setelah itu tidak ada yang terjangkit lagi," jelasnya.
Sofwan juga mengatakan, ia menerapkan kedisiplinan ketat di lingkungan pesantren dengan memberlakukan denda bagi yang tak menggunakan masker.
“ Harus ada disiplin, sifatnya pemaksaan, seperti penggunaan masker. Yang tidak taat didenda Rp250 ribu. 50 persen untuk pelapor dan 50 persen untuk lembaga,” tegasnya.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?