Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Presiden Joko Widodo (Foto: Istimewa)
Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan menteri kesehatan untuk mengingatkan rumah sakit dan pejabat pemerintah agar tidak membuka data pribadi tentang pasien positif virus corona.
" Hak-hak pribadi penderita corona harus dijaga. Tidak boleh dikeluarkan ke publik. Ini etika kita dalam berkomunikasi," ujar Jokowi, dalam tayangan Kompas TV, Selasa, 3 Maret 2020.
Jokowi juga meminta media massa menghormati privasi penderita pada kasus 1 dan 2 Covid-19.
" Sehingga secara psikologis, mereka tidak tertekan dan dapat pulih kembali," ucap dia.
Sebaliknya, Jokowi mengajak masyarakat untuk mendoakan dua pasien kasus 1 dan 2. " Saya juga minta masyarakat untuk bersama-sama berdoa memberi dukungan dan empati terhadap pasien kasus 1 dan kasus 2," ucap dia.
Kepada masyarakat, Presiden meminta untuk selalu menjaga kebersihan dan kebugaran. Langkah minimal itu diharapkan bisa menjaga imunitas menjadi lebih baik.
" Sering cuci tangan, jangan menyentuh wajah, gini (sambil memperlihatkan cara menyentuh wajah,red), dan yang terbaik menjaga kebersihan dan menjaga kebugaran," kata dia.
Dream - Kasus sebaran virus corona, Covid-19, di China terus mengalami penurunan. Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto kasus virus corona turun ke angka terendah di angka 120 kasus pada Senin, 2 Maret 2020.
" Jumlah terkecil sejak Januari, makin menurun. Yang menjadi masalah, kasus di luar China makin naik," ucap Achmad yang telah ditunjuk pemerintah menjadi juru bicara penanganan corona, dalam tayangan Kompas TV, Selasa, 3 Maret 2020.
Achmad mengatakan, kenaikan sebesar 81 persen terfokus di empat negara saja, diantaranya, Korea Selatan, Iran, Jepang, dan Italia.
Saat ini, kata Achmad, pemerintah mewaspadai pola baru Covid-19. Sebab, tren kesakitan virus ini menurun.
" Gejala klinis minimal tidak seperti saat awal-awal di Hubei, kita temukan positif tanpa gejala. Pola-pola semacam ini yang kita cermati, WHO juga meneliti lebih dalam," kata dia.
Pemahaman terhadap pola sebaran virus ini mirip dengan strain SARS pada 2002. Setelah 2,5 tahun, SARS menghilang dan menjadi flu musiman.
Achmad mengatakan, kondisi dua pasien positif corona dalam kondisi baik. Dua orang lain yang tinggal serumah dengan mereka dinyatakan negatif.
" Dua orang warga kita kondisinya bagus, tidak menggunakan selang oksigen karena tidak sesak, tidak menggunakan infus karena tidak ada kedaruratan, keluhan terakhir masih batuk, tidak panas sama sekali, itu kondisi fisiknya," ucap dia.
Pernyataan serupa juga disampaikan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Hingga waktu konferensi pers berlangsung, Menkes mendapat laporan jika kondisi pasien yang kini dirawat di RSPI dalam keadaan baik.
" Paling tidak saya tahu mereka sehat. Sampai detik ini mereka sehat," kata Terawan dikutip Dream dari Liputan6.com.
Dalam pernyataannya di Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso sebelumnya, Terawan mengatakan bahwa kedua pasien yang merupakan seorang ibu dan putrinya sempat mengalami gejala berupa batuk, pilek, dan kesulitan bernapas.
" Batuk, pilek, tadinya agak sesak. Dia dengan demam, agak sesak, ya sudah kita tracking semua. Kalau sekarang sih kondisinya tinggal batuknya saja," kata Terawan. Saat ini, Kemenkes masih melakukan penelusuran kontak dekat dengan pasien.
Pada bagian lain, Achmad menyebut, saat ini Balitbang Kementerian Kesehatan sudah memeriksa 155 spesimen dari 44 rumah sakit di 23 provinsi.
" Diantaranya ada dua positif, yang kemarin itu, masih ada dua yang belum kita periksa, baru masuk, yang lain negatif," ucap dia.(Sah)
Dream - Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menjelaskan kronologi dua warga Depok, Jawa Barat, bisa tertular virus corona. Keduanya diketahui sempat kontak langsung dengan seorang Warga Negara Jepang.
Terawan mengatakan, WNI dan warga Jepang itu sebelumnya bertemu di sebuah kelas dansa. Usai pertemuan itu, WNI itu mengalami batuk dan menjalani rawat jalan.
" Kemudian pulang masih nggak nyaman, kalau nggak salah tanggal 26 (Februari) minta dirawat karena batuk nggak sembuh, demam," ujar Terawan.
Saat menjalani perawatan, tanggal 28 Februari pasien itu ditelepon oleh warga Jepang dari Malaysia. Orang Jepang itu memberitahu sedang dirawat di Malaysia karena positif terjangkit corona.
" Kemudian dia memberitahu dokter yang merawat, dia dalam pemantauan sehingga teman-teman dokter di rumah sakit itu telah menyiapkan diri begitu dianggap sebagai pasien dalam pemantauan," kata Terawan.
Setelah itu, pasien lalu dipindahkan ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso. Terawan mengatakan tim bergerak cepat melakukan penelusuran kontak pasien tersebut.
" Sampai sini tanggal 1 langsung kita cek dan sebagainya. Hasilnya tadi pagi maka tracking-nya sudah jalan sehingga si cewek ini bersama ibunya 64 tahun dua-duanya kita cek," kata Terawan.
Saat ini, kedua pasien tersebut dalam keadaan baik. " Hanya batuk sekali," kata Terawan.
Dream - Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso menjadi lokasi isolasi pasien diduga terjangkit virus corona. Ada 24 pasien dirawat intensif namun 21 di antaranya sudah dipulangkan sepanjang Januari-28 Februari 2020.
" 21 orang sudah dipulangkan setelah dirawat sekitar 4-5 hari karena hasil labnya negatif virus Covid-19," ujar Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Mohammad Syahril, dikutip dari Liputan6.com.
Syahril mengatakan para pasien ini merupakan rujukan dari sejumlah rumah sakit di Jakarta. Masing-masing pasien menunjukkan gejala suspek corona seperti demam tinggi di atas 38 derajat, batuk, pilek, dan sakit tenggorokan.
" Dalam 14 hari terakhir bepergian ke daerah yang sedang ada wabah, misalnya Wuhan, Singapore, Jepang, dan Korea atau orang tersebut kontak dengan pasien yang kena virus corona," kata dia.
Sejauh ini, masih ada tiga pasien berstatus dalam pengawasan. Ketiganya dinyatakan memenuhi kriteria sesuai pedoman infeksi virus corona.
" Saat ini masih dirawat tiga orang PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan menunggu hasil laboraturium yang diperiksa di Litbangkes. Kondisi pasiennya baik-baik saja," ucap Syahril.
" Hasil lab kesatu sudah negatif tinggal tunggu hasil yang kedua," kata dia melanjutkan.
Meski demikian, Syahril menolak pasien-pasien itu disebut suspek virus corona. Dia menyatakan istilah paling pas yaitu Pasien Dalam Pengawasan (PDP).
" Bukan Suspect. Tapi Pasien Dalam Pengawasan. Jadi dirawat di ruang isolasi sambil diperiksa laboratoriumnya," kata dia.
Sumber: Liputan6.com/Ady Anugrahadi
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya