Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mbah Paijo (Terta Mayasari)
Dream - Lelaki sepuh itu berjongkok di tepi jalan. Di bawah terik matahari yang membakar udara Yogyakarta. Dia hanya diam. Mata menatap tajam. Memandangi dua keranjang di depan, yang penuh dengan seruling dan mainan anak-anak dari bahan bambu.
Dialah Mbah Paijo. Tengah mengaso di tepi Jalan Kaliurang. Tubuh renta itu kelelahan. Setelah berjalan cukup jauh. Berkeliling Kota Yogya menjajakan seruling dan mainan bambu. Hawa pada Senin, 28 September 2015, itu memang panas. Terik matahari menikam ubun-ubun tanpa ampun.
Penasaran kisah selanjutnya? Berikut ulasan dari Finalis Dream Girls 2015, Terta Mayasari:
Saya, yang saat itu tengah menuju Cebongan, merasa trenyuh. Saya teringat kakek dan nenek di rumah yang sumuran Mbah Paijo. Tanpa pikir panjang, lampu sein saya nyalakan. Setang motor langsung saya belokkan. Turunlah saya dari motor dan menghampiri Mbah Paijo.
Saya melihat-lihat dagangan Mbah Paijo. Sepertinya masih utuh. Belum banyak yang laku. Saya amati pula Mbah Paijo lekat-lekat. Rautnya sungguh terlihat lelah. Buliran-buliran keringat mengucur dari kulit yang sudah keriput. Baju batik cokelat pun terlihat kuyup oleh keringat.
Saya kemudian duduk di samping Mbah Paijo. Mengajaknya berbincang. “ Biasanya sehari laku berapa Mbah?” tanyaku membuka percakapan. Mbah Paijo terdiam sejenak, lantas menjawab, “ Tidak pasti Mba, kadang malah nggak laku sama sekali.”
Saya semakin trenyuh. Memang, di zaman modern ini permainan tradisional yang dijajakan Mbah Paijo tak lagi diminati. Anak-anak lebih memilih mainan buatan pabrik. Apalagi permainan online yang tersedia di dalam telepon pintar bisa diakses dengan gratis. Sungguh berat perjuangan Mbah Paijo. Tapi itu yang membuat saya semakin salut.
Percakapan itu terus mengalir. Dari sana, saya tahu Mbah Paijo sudah berumur 80 tahun. Beliau merupakan warga Gunung Kidul. Hampir saban hari berkeliling Kota Yogya, menjajakan seruling dan mainan bambu, agar dapur tetap mengepul.
Mbah Paijo sebenarnya punya empat anak. Namun mereka merantau ke Jakarta. Sehingga saat ini Mbah Paijo hanya tinggal bersama istri yang selalu setia menunggunya pulang.
Dari Gunung Kidul, Mbah Paijo selalu naik angkutan umum ke Kota Yogya. Setelah itu, berjalan menyusuri jalanan kota. Berharap ada anak-anak yang tertarik dan membeli seruling dan mainan bambunya. Mbah Paijo biasa berkeliling dan baru balik ke rumah beberapa hari kemudian. “ Setiap saya tidur di masjid atau emperan toko,” kata Mbah Paijo.
Mendengar cerita Mbah Paijo, tak terasa air mata saya menetes. Rasanya sangat berat beban Mbah Paijo. Umurnya sudah renta. Sudah begitu harus berkeliling puluhan kilometer sambil memikul beban, dengan hasil tak menentu. Meski demikian, Mbah Paijo Tak menyerah. Dia lebih memilih berjuang daripada meminta-minta atau merepotkan orang lain.
“ Manusia hanya bisa berusaha, tuhan yang menentukan. Berapapun hasilnya harus kita syukuri,” turur Mbah Paijo. Meski terkadang pulang tanpa membawa uang, Mbah Paijo mengaku selalu ikhlas. Yakin rezeki tak akan tertukar.
Subhanallah, betapa bahagianya jika kita memilki seorang ayah atau kakek yang amanah terhadap keluarga seperti Beliau, benar-benar pahlawan keluarga yang patut dicontoh. Semoga Allah selalu menjaganya, meridhai setiap langkah dan melancarkan rizkinya sebagai bentuk pengabdian terhadap keluarga dan Tuhan.
Terta Mayasari, Finalis Dream Girls 2015
(Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya