Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Nur Holisah Saat Berpose Dengan Para Wasit Senior (Dream.co.id/Maulana Kautsar)
Dream - Bagi sebagian besar masyarakat, sepakbola selalu identik dengan olah raga para lelaki. Dari pemain, pelatih, hingga wasit pun biasanya didominasi oleh kaum pria.
Kini perlahan anggapan itu bisa didobrak. Gadis bernama Nur Holisah baru-baru ini muncul sebagai hijabers pertama yang menjadi wasit di kancah sepakbola di Indonesia.
Lisa, panggilan akrabnya, tak sekadar menumpang tenar. Sebagai pengadil lapangan hijau, dia telah mengantongi sertifikat C3 dan C2.
" C3 saya dapat ketika SMA. Kalau C2 baru April 2015 dapatnya," kata Lisa saat ditemui Dream di kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta, Kamis, 12 November 2015.
Sertifikat C3 merupakan lisensi agar seorang wasit dapat memimpin sebuah pertandingan di tingkat kota atau kabupaten. Adapun sertifikat C2 merupakan lisensi yang diberikan agar seorang wasit dapat memimpin pertandingan setingkat provinsi.
Menurut Lisa, butuh persiapan yang cukup panjang untuk mendapatkan dua serifikat itu. Dia bahkan mengeluarkan kocek yang tidak sedikit untuk mengikuti tes itu.
" Persiapannya meliputi kesiapan fisik dan pengetahuan mengenai peraturan terbaru yang dibuat FIFA (Federation Internationale de Football Association). Kalau soal biaya, untuk C2 saja butuh sekitar Rp 2 jutaan. Kalau C3 butuh Rp 3,5 juta," jelas hijabers yang kerap dijuluki Cinderela ini.
Meski mahal, menurutnya, perputaran uang untuk mengembalikan biaya tes itu tergolong cepat. Dalam sekali memimpin bertugas dirinya dapat mendapatkan imbalan Rp 100 ribu hingga Rp 600 ribu.
" Kalau pertandingan antar kampung biasanya diberi Rp 100 ribu. Tapi, kini setelah dapat C2, bisa memimpin di pertandingan sekelas kejuaraan Danone Cup, bisa dapat Rp 600 ribu per pertandingan. Itu belum termasuk kalau ada latih tanding, biasanya bisa dapat Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu," ungkapnya.
Dia mengatakan tak mematok imbalan itu. Biasanya, imbalan itu memang ditentukan oleh jenis pertandingan dan sertifikat yang dipegang.
" Makanya kalau wasit ISL (Indonesia Super League) digaji jutaan per pertandingan. Tapi, kalau hanya jadi asisten wasit nilainya beda lagi," pungkas dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya