6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Duh, IHSG Dan Indeks Syariah Masih Terkapar.
Dream - Sentimen negatif dari pelemahan mata uang Turki, Lira, memicu kecemasan global. Terpangkasnya nilai tukar Lira memicu spekulasi munculnya krisis moneter di negara-negara berkembang lainnya.
Kondisi ini membuat pelaku pasar menanti cemas terlihat dari laju indeks saham dan kurs rupiah yang bergerak melemah.
Dikutip pada papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa 14 Agustus 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 25,099 poin (0,43%) ke level 5.836,147 pada penutupan perdagangan sesi I.
Koreksi juga melanda Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang turun 0,676 poin (0,29%) ke level 172,957.
Indeks keping biru syariah, Jakarta Islamic Index (JII), terkoreksi 6,098 poin (0,95) ke level 634,426. Indeks JII70, melemah 1,929 poin (0,90%) ke level 212,402.
Sentimen dari Turki ini membuat investor menahan diri untuk melantai di bursa. Hanya ada tiga indeks sektoral yang menarik perhatian mereka, yaitu infrastruktur, industri dasar, dan pertambangan. Ketiga indeks ini naik masing-masing 0,30 persen, 0,28 persen, dan 0,10 persen.

Sentimen global utamanya pelemahan lira juga turut berpengaruh pada pasar uang. Rupiah belum bangkit dari level Rp14.600. Diang ini rupiah masih tertahan di level Rp14.607 per dolar AS.
Malah, dolar AS sempat bertengger di level tertinggi di Rp14.625 per dolar AS.
Mengutip laman Liputan6.com, Analis PT Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi berpendapat, krisis yang berlangsung di Turki merambat ke pasar global. Anjloknya mata uang Turki, Lira, mengingatkan investor tentang krisis masa lalu di pasar negara berkembang dan mengguncang pasar di seluruh dunia.
" Kekhawatiran investor mengenai efek derasnya aliran dana asing yang keluar pada pasar negara berkembang akibat krisis di Turki menjadi faktor utama," ujarnya.
Oleh karena itu, kata Lanjar, investor berspekulasi suku bunga akan di naikan 50 basis point (bps) pada pertemuan Bank Indonesia (BI) Rabu pekan ini.
" Kekalahan di Lira dapat memicu volatilitas dalam aset pasar berkembang dan meredam sentimen investor dalam waktu dekat," pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
