Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Tupai (Foto: Shutterstock)
Dream - Hati-hati jika makan organ-organ binatang. Terutama binatang yang tak lazim dikonsumsi.
Sebuah kasus penyakit otak langka menimpa seorang pria asal New York, Amerika Serikat, karena ia kerap menyantap otak tupai.
Pria 61 tahun yang tak disebutkan namanya itu pada 2015 dibawa ke rumah sakit di Rochester, New York. Ia mengalami penurunan kemampuan berpikir dan kehilangan kontak dengan realitas.
Pria itu juga kehilangan kemampuan untuk berjalan sendiri. Hasil MRI atau pemindaian otak kepala pria itu mengungkap sebuah temuan yang mengejutkan. Dari pemeriksaan terlihat kalau ia mengidap penyakit langka Creutzfeldt- Jakob (vCJD).
Penyakit itu disebabkan oleh protein menular yang disebut prion. Hanya ada beberapa ratus kasus vCJD yang pernah dilaporkan.
Sebagian besar terkait dengan konsumsi daging sapi yang terkontaminasi di Inggris pada periode 1980-an dan 1990-an. Pada sapi, penyakit ini biasa disebut "penyakit sapi gila".
Menurut dokter yang menanganinya, dr. Tara Chen di Rochester Regional Health, pria tersebut memiliki kebiasaan yang meningkatkan risiko terkena penyakit langka vCJD. Keluarganya mengatakan, sang pria suka berburu dan memakan otak tupai.

Tidak jelas apakah pria itu mengonsumsi seluruh otak tupai atau hanya daging yang terkontaminasi dengan sebagian otaknya.
Chen menemukan kasus tersebut saat menulis laporan mengenai dugaan kasus penyakit Creutzfeldt-Jakob yang terlihat di rumah sakitnya dalam lima tahun terakhir.
Laporan itu dipresentasikan pada 4 Oktober di IDWeek, sebuah pertemuan beberapa organisasi yang berfokus pada penyakit menular.
Chen mengatakan pada Live Science, penyakit yang melemahkan ini berkembang dengan cepat dan menyebabkan kematian.
Biasanya satu tahun setelah diagnosis. Tidak ada perawatan atau penyembuhan untuk kasus ini. Menurut National Institutes of Health, gangguan neurologis progresif ini hanya mempengaruhi sekitar 1 dari sejuta orang setiap tahunnya di seluruh dunia.
(ism, Sumber: Giovani Dio/ Liputan6.com)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya



Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan