Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Tidak banyak yang tahu bahwa selain memiliki ultraviolet (UV) A dan UVB, sinar Matahari juga mengandung ultraviolet jenis UVC. Sinar ini memiliki panjang gelombang yang lebih pendek. Namun punya daya yang cukup kuat untuk menghancurkan materi genetik.
Beruntung bagi manusia, karena sebagian besar sinar UVC tidak sampai ke Bumi sebab ada lapisan ozon yang melindunginya.
Sebuah tim peneliti dari National Institute for Astrophysics di Roma mengatakan bahwa sinar UVC bisa menghancurkan virus corona.
Menurut mereka, meski tidak banyak yang masuk ke Bumi, sinar UVC juga bisa terbentuk dari kombinasi UVA dan UVB.
Kombinasi UVA dan UVB dalam dosis yang tepat akan memiliki kekuatan yang sama dengan sinar UVC.
Mereka kemudian membangun model untuk memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membunuh virus di lebih dari 100 negara.
Hasilnya bervariasi. Tetapi secara umum, dari Januari hingga April di negara yang terletak 40 sampai 60 derajat di utara khatulistiwa, paparan sinar UV selama antara 30 menit dan 14 jam sehari mampu membunuh 63 persen patogen.
Negara-negara itu meliputi banyak daerah yang paling terpukul oleh pandemi ini, seperti China, Italia, Spanyol, Inggris, dan Amerika Serikat.
Para peneliti kemudian mengalihkan perhatian mereka ke bagian selatan khatulistiwa. Pada periode yang sama, di wilayah antara 40 dan 60 derajat selatan khatulistiwa, dibutuhkan sekitar empat hingga 35 menit sinar Matahari untuk membunuh virus corona.
Wilayah ini termasuk Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Chili, Argentina dan Zimbabwe. Banyak dari negara ini yang memberlakukan lockdown yang kurang ketat tapi tingkat infeksinya relatif rendah.
Tidak semua wilayah di selatan khatulistiwa tingkat infeksinya rendah. Brasil telah mengalami tingkat infeksi yang tinggi sejak Maret.
Menurut penelitian, epidemi di Brasil berkembang di daerah-daerah di mana paparan UVB dan UVA kurang dari 20 menit.
" Itu adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan oleh pembuat kebijakan di seluruh dunia," tambah penelitian.
Selain itu, ada tanda-tanda bahwa tingkat infeksi di wilayah selatan telah meningkat karena paparan UV menurun akibat perubahan musim.
Sementara itu, Li Ying, seorang astronom di Purple Mountain Observatory di kota Nanjing, China, mengatakan para ilmuwan menghadapi banyak tantangan dalam mengaitkan hubungan antara radiasi sinar Matahari dan penyebaran Covid-19.
" Banyak elemen cuaca, seperti tetesan air di awan yang menyerap atau membelokkan sinar Matahari, dapat memengaruhi pemodelan (ilmuwan Italia)," katanya.
Artinya, tingkat radiasi UV bisa saja tetap rendah bahkan jika Matahari berada tepat di atas suatu wilayah.
" Penyebaran virus dipengaruhi oleh begitu banyak kekuatan. Saya khawatir teori sinar UV ini, jika itu benar-benar ada, akan tenggelam di antara yang lainnya," kata Ying.
Beberapa peneliti menduga perubahan aktivitas Matahari dalam beberapa bulan terakhir telah mengurangi jumlah radiasi yang menghantam Bumi.
Ini mungkin yang telah berkontribusi meningkatnya tingkat penyebaran virus. Tetapi Ying mengatakan tidak ada bukti untuk mendukung spekulasi semacam itu.
" Kami berharap aktivitas Matahari akan mencapai titik tertinggi dalam dua atau tiga tahun (untuk membuktikannya)," katanya.
Sumber: SCMP
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya