Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Anak-anak Di Sekolah Darurat Di Salahuddin Camp (humas ACT)
Dream - Serangan udara yang dilancarkan koalisi Rusia telah menghancurkan sebagian besar fasilitas, terutama sekolah, di Provinsi Idlib. Ini menghilangkan kesempatan anak-anak Suriah untuk dapat menikmati pendidikan.
Persoalan ini membuat tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bergerak. Mereka mendirikan kamp pengungsian Alayikha Camp melengkapi fasilitas Salahuddin Camp yang telah dibangun sebelumnya.
Alayikha Camp merupakan kamp pengungsian terletak di Provinsi Idlib, yang menampung 215 keluarga dan 195 anak-anak. Mengingat banyaknya jumlah anak-anak tersebut, ACT memutuskan untuk membangun gedung sekolah di kawasan kamp tersebut.
" Saat ini pembangunan sekolah sementara tersebut masih dalam proses pengadaan barang-barang yang akan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar," ujar Staf Global Humanity Response ACT Aisyah Darojati dalam keterangan tertulis diterima Dream, Senin, 18 April 2016.
Sementara di Salahuddin Camp terdapat tujuh pria dewasa dan 14 wanita dewasa, serta 856 anak-anak. Jumlah anak-anak di kamp ini meningkat lantaran serangan yang terjadi sejak akhir tahun lalu.
Akibatnya, sebagian besar dari anak-anak di Salahuddin Camp tidak mendapat fasilitas pendidikan yang layak. Mereka terpaksa belajar di sekolah darurat di sekitar kamp pengungsian.
Untuk itu, melalui program Lights for Syria, ACT memberikan bantuna berupa dua unit proyektor beserta layar, dua unit laptop, printer, speaker, juga generator. Alat-alat ini akan digunakan sebagai fasilitas belajar di sekolah darurat tersebut, agar mereka tetap bisa merasakan pendidikan.
Sejak Maret 2011, konflik yang terjadi di Suriah telah menewaskan lebih dari 470.000 orang. Lebih dari separuh populasi negara, sekitar 10,5 juta jiwa mengungsi baik di dalam Suriah sendiri atau di negara-negara tetangga.
Tahun 2015 yang lalu, lebih dari 1,1 juta migran Suriah menyeberang ke Eropa. Angka itu diperkirakan akan terus meningkat mengingat hingga pertengahan Februari 2016 lebih dari 120.000 orang tercatat sudah masuk Eropa seperti Italia, Hungaria, dan Yunani.
Dalam bidang pendidikan, jumlah anak-anak usia sekolah yang bisa mengenyam pendidikan merosot 44 persen dari tahun 2010. UNOCHA memperkirakan lebih dari dua juta anak Suriah yang masih berada di dalam negaranya putus sekolah.
700.000 anak lain yang mengungsi pun tidak dapat lagi terfasilitasi untuk memperoleh pendidikan. Sementara diperkirakan 400.000 anak lagi yang beresiko putus sekolah.
Satu dari empat sekolah yang ada di Suriah rusak atau hancur total. Sekolah yang masih utuh pun banyak yang digunakan untuk shelter pengungsi atau justru disulap menjadi markas militer.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya