Diklaim Lebih Ampuh, Presiden Trump Pilih Obat Ini untuk Pasien Covid-19

Reporter : Cynthia Amanda Male
Sabtu, 2 Mei 2020 18:45
Diklaim Lebih Ampuh, Presiden Trump Pilih Obat Ini untuk Pasien Covid-19
Bisa mempercepat pemulihan hingga 31 persen.

Dream - Pemerintah AS memperbolehkan penggunaan darurat obat Remdesivir untuk menangani pasien Covid-19. Obat ini dianggap mampu memulihkan pasien lebih cepat.

Izin tersebut disampaikan Presiden AS Donald Trump Jumat kemarin di Gedung Putih bersama Komisioner Food and Drug Administration (FDA), Stephen Hahn.

Mereka mengungkapkan bahwa obat tersebut akan disediakan bagi pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Langkah ini juga disetujui oleh Dr Anthony Fauci, Ahli Penyakit Menular yang optimistis bahwa obat ini akan efektif untuk pengobatan pasien Covid-19.

“ Data menunjukkan bahwa Remdesivir memiliki efek positif yang jelas dan signifikan untuk mempersingkat waktu pemulihan,” ungkap Fauci dilansir dari The Guardian.

Menurut Fauci, obat tersebut dapat mencegah efek Covid-19 menjadi semakin parah. Penelitian membukitkan obat tersebut berhasil mempersingkat waktu pemulihan hingga 31 persen atau sekitar 4 hari.

1 dari 4 halaman

Obat Remdesivir masih perlu diteliti lagi

Terdapat 1063 pasien yang terabit dalam penelitian tersebut. Mereka dapat meninggalkan rumah sakit rata-rata dalam 11 hari. Sedangkan, pasien lainnya baru meninggalkan rumah sakit dalam 15 hari.

Peneliti masih mencari tahu lebih dalam apakah obat ini bisa digunakan pada orang yang memiliki penyakit ringan. FDA telah memberikan izin penggunaan obat ini dalam keadaan darurat.

Meski begitu, sebenarnya belum ada obat yang disetujui untuk mengobati virus Corona dan Remdesivir pun masih membutuhkan persetujuan resmi.

FDA membutuhkan data tambahan untuk bisa menyetujui Remdesivir sebagai obat virus Corona. Sampai saat ini, obat tersebut diperuntukkan bagi pasien yang kondisinya parah, kadar  oksigen darahnya rendah, membutuhkan terapi oksigen atau menggunakan ventilator mekanik.

(Sumber: The Guardian)

2 dari 4 halaman

Sembarang Konsumsi Obat Corona Bisa Bikin Buta

Dream - Keberadaan dua jenis obat yang diklaim bisa mengatasi Covid-19, menjadi kabar gembira bagi masyarakat dunia. Sayangnya, hal ini dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk meraup keuntungan.

Akun Instagram @febriastry mengunggah banyaknya penjual Chloroquine di berbagai e-commerce. Yang dijual pun bukan Chloroquine, melainkan Primaquine dan DHP (dihydroartemisinin-piperaquine).

Chloroquine Dijual Bebas© Instagram.com/febriastry/

Harga obat yang diklaim sebagai anti-corona itu beragam. Mulai dari puluhan hingga ratusan ribu. Pemilik akun yang juga seorang dokter Magang di salah satu rumah sakit wilayah Jawa Barat, menekankan bahwa kedua obat tersebut berbeda dengan Chloroquine.

Chloroquine Dijual Bebas© Shutterstock.com

“ Primaquine apalagi DHP (dihydroartemisinin-piperaquine) TIDAK SAMA dengan Chloroquine. Pemakaian chloroquine harus sesuai petunjuk dokter, karena potensi efek camping yang berbahaya superti gangguan irama jantung dan kebutaan,” tulisnya.

Chloroquine Dijual Bebas© Instagram.com/febriastry/

Konsumsi Chloroquine harus disertai resep dokter. Namun, sampai saat ini terlihat obat yang dijual secara online tersebut telah berhasil melakukan beberapa transaksi. Semoga melalui unggahan tersebut bisa mencegah pembelian obat dengan efek berbahaya tanpa resep dokter. (mut)

Chloroquine Dijual Bebas© Instagram.com/febriastry/

3 dari 4 halaman

Obat Flu Fujifilm Ampuh Lawan Virus Corona?

Dream -  Pencarian terhadap vaksin dan obat untuk menangani virus corona terus  dilakukan. Salah satu temuan terkini, yaitu, oblat influenza favipiravir.

Dilaporkan Nikkei Asian Review, obat influenza itu dibuat anak perusahaan Fujifilm Holdings. Obat tersebut dijual di pasaran dengan nama Avigan.

Pemerintah China mengonfirmasi temuan ini. Obat itu bahkan telah diuji klinis terhadap 200 pasien.

Beberapa dokter dari Jepang juga telah merawat pasien Covid-19 dengan Avigan. Tokyo telah menimbun cukup banyak obat untuk mengobati 2 juta pasien.

" Kami telah diminta oleh pemerintah untuk mempertimbangkan peningkatan produksi," kata Fujifilm.

Avigan disetujui untuk mengobati influenza di Jepang pada Maret 2014. Fujifilm menandatangani perjanjian lisensi dengan Zhejiang Hisun Pharmaceutical China pada 2016.

Beijing sudah merekomendasikan obat ini kepada penyedia layanan kesehatan.

4 dari 4 halaman

Uji Coba dan Efek Samping

Sementara itu, perusahaan bioteknologi Amerika Serikat (AS) Gilead Sciences sedang melakukan uji klinis untuk remdesivir, yang awalnya dikembangkan untuk mengobati Ebola, pada 1.000 pasien virus corona. Obat ini sedang diuji di AS, Jepang, Cina, dan di tempat lain.

Remdesivir masih belum disetujui di mana pun untuk penggunaan apa pun.

Kaletra, pengobatan HIV yang dibuat oleh AbbVie yang berbasis di A.S., juga telah digunakan untuk mengobati virus corona di China bersama dengan obat lain. Jika terbukti efektif, produksi obat ini berpotensi ditingkatkan dengan cepat.

Institute of Medical Science di University of Tokyo akan mulai secara eksperimental merawat pasien coronavirus dengan nafamostat, perawatan pankreatitis, pada akhir minggu ini.

Meski begitu, beberapa obat di atas masih punya efek samping. Avigan, misalnya, menyebabkan cacat lahir selama pengujian hewan dan tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh wanita hamil.

Kerusakan hati dan pankreatitis telah diamati pada pengguna Kaletra. Efek samping untuk remdesivir masih belum jelas, tetapi dapat termasuk menurunkan tekanan darah.

Beri Komentar