5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Dexamethasone
Dream - Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Agus Dwi Susanto, menyatakan Dexamethasone efektif menurunkan risiko kematian bagi pasien terinfeksi Covid-19. Namun Agus hanya menyarankan petugas medis memberikan obat ini kepada pasien kategori kritis yang menggunakan alat bantu pernapasan atau ventilator.
" Riset dari Recovery Trial menyebutkan Dexamethasone ini memberi dampak positif dalam menurunkan mortalitas terutama pada pasien-pasien yang menggunakan ventilator dan terapi oksigen," ujar Agus, dikutip dari Merdeka.com.
Agus tidak menyarankan obat tersebut diberikan kepada pasien dengan diagnosis ringan. Selain tidak memberikan dampak baik dalam proses perawatan, obat tersebut malah menimbulkan efek samping.
" Dari sisi efikasi terlihat tidak ada manfaatnya. Kedua, efek samping yang ditimbulkan cukup banyak," kata dia.
Menurut Agus, hasil riset awal menunjukkan penggunaan Dexamethasone pada pasien kondisi berat menunjukkan perkembangan baik. Sejak hasil Recovery Trial keluar, Dexamethasone sudah diterapkan ke beberapa pasien dengan kondisi mulai memburuk dan menunjukkan tanda yang positif.
" Tetapi, kalau sudah terlambat tidak begitu bagus, tetapi ini kesimpulan satu dua orang, terlalu dini," kata dia.
Menurut Agus, penggunaan obat ini terbilang aman di Indonesia. Sejumlah asosiasi profesi dokter seperti PDPI, PAPDI, PERKI, IDAI, dan PERDATIN menyatakan efek samping dari Dexamethasone terbilang ringan dan tidak meningkatkan risiko kematian.
" Studi mengenai efektivitas masih berjalan, tetapi data awal yang ada menunjukkan penggunaan obat tersebut terbilang aman. Risiko kematian sedikit ketimbang tidak menggunakannya, lalu lama rawat terlihat lebih sedikit," kata dia.
Tetapi jika riset sudah selesai dan hasilnya menyatakan tidak efektif, Agus menyatakan akan merekomendasikan untuk penghentian penggunaan obat tersebut.
" Jika hasil riset akhirnya menunjukkan tidak efektif, akan kami hentikan penggunaannya," kata dia.
(Sah, Sumber: Merdeka.com/Arnold)
Dream - Dokter Reisha Broto Asmoro meminta masyarakat berhati-hati menggunakan obat dexamethasone untuk penanganan Covid-19. Meski direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO), obat ini harus sesuai dengan resep dokter.
" WHO mengeluarkan rilis yang merekomendasikan penggunaan obat dexamethasone. Namun mohon berhati-hati karena dosis dan lama penggunaannya diberikan berdasar usia dan reaksi terhadap obat tersebut," ujar Reisa, dikutip dari Merdeka.com, Jumat 19 Juni 2020.
Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 itu menambahkan, penggunaan obat ini memiliki efek samping yang berkepanjangan. Obat ini juga sejatinya digunakan untuk mengurangi peradangan, oleh karena itu harus sesuai dengan resep dokter agar tidak memberikan efek samping.
" Obat ini direkomendasikan untuk (pasien) Covid-19 yang (memiliki gejala) berat. Obat ini dianjurkan untuk penurunan kasus kematian 20 hingga 30 persen, obat ini bukan untuk terapi penyakit ringan atau OTG (orang tanpa gejala)," kata dia.
Dexamethasone, tambah dia, juga bukan obat untuk menangkal penularan Covid-19. Tidak pula berfungsi sebagai vaksin. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan memantau peredaran obat ini.
" Obat ini tidak punya khasiat pencegahan, ini bukan vaksin, ini merupakan kombinasi obat-obatan.
Menurut dia, BPOM akan memantau peredaran dexamethasone. Meski sudah merekomendasikan, WHO belum menentukan obat atau regimen pengobatan tetap bagi perawatan pasien.
" WHO dan Kemenkes tetap berpesan ikuti anjuran dokter, hindari penggunaan antibiotik karena bisa sebabkan resistensi," dia menambahkan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?