Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Obat Dexamethasone Diklaim Kurangi Risiko Kematian Pasien Corona Kategori Berat

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 29 Juni 2020 18:01
Obat Dexamethasone Diklaim Kurangi Risiko Kematian Pasien Corona Kategori Berat
Hasil uji sementara menunjukkan obat ini cukup efektif untuk pasien dengan gejala kritis.

Dream - Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Agus Dwi Susanto, menyatakan Dexamethasone efektif menurunkan risiko kematian bagi pasien terinfeksi Covid-19. Namun Agus hanya menyarankan petugas medis memberikan obat ini kepada pasien kategori kritis yang menggunakan alat bantu pernapasan atau ventilator.

" Riset dari Recovery Trial menyebutkan Dexamethasone ini memberi dampak positif dalam menurunkan mortalitas terutama pada pasien-pasien yang menggunakan ventilator dan terapi oksigen," ujar Agus, dikutip dari Merdeka.com.

Agus tidak menyarankan obat tersebut diberikan kepada pasien dengan diagnosis ringan. Selain tidak memberikan dampak baik dalam proses perawatan, obat tersebut malah menimbulkan efek samping.

" Dari sisi efikasi terlihat tidak ada manfaatnya. Kedua, efek samping yang ditimbulkan cukup banyak," kata dia.

Menurut Agus, hasil riset awal menunjukkan penggunaan Dexamethasone pada pasien kondisi berat menunjukkan perkembangan baik. Sejak hasil Recovery Trial keluar, Dexamethasone sudah diterapkan ke beberapa pasien dengan kondisi mulai memburuk dan menunjukkan tanda yang positif.

" Tetapi, kalau sudah terlambat tidak begitu bagus, tetapi ini kesimpulan satu dua orang, terlalu dini," kata dia.

1 dari 3 halaman

Aman Untuk Sementara

Menurut Agus, penggunaan obat ini terbilang aman di Indonesia. Sejumlah asosiasi profesi dokter seperti PDPI, PAPDI, PERKI, IDAI, dan PERDATIN menyatakan efek samping dari Dexamethasone terbilang ringan dan tidak meningkatkan risiko kematian.

" Studi mengenai efektivitas masih berjalan, tetapi data awal yang ada menunjukkan penggunaan obat tersebut terbilang aman. Risiko kematian sedikit ketimbang tidak menggunakannya, lalu lama rawat terlihat lebih sedikit," kata dia.

Tetapi jika riset sudah selesai dan hasilnya menyatakan tidak efektif, Agus menyatakan akan merekomendasikan untuk penghentian penggunaan obat tersebut.

" Jika hasil riset akhirnya menunjukkan tidak efektif, akan kami hentikan penggunaannya," kata dia.

(Sah, Sumber: Merdeka.com/Arnold)

2 dari 3 halaman

Dokter Reisa Broto: Hati-Hati Gunakan Dexamethasone untuk Covid-19

Dream - Dokter Reisha Broto Asmoro meminta masyarakat berhati-hati menggunakan obat dexamethasone untuk penanganan Covid-19. Meski direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO), obat ini harus sesuai dengan resep dokter.

" WHO mengeluarkan rilis yang merekomendasikan penggunaan obat dexamethasone. Namun mohon berhati-hati karena dosis dan lama penggunaannya diberikan berdasar usia dan reaksi terhadap obat tersebut," ujar Reisa, dikutip dari Merdeka.com, Jumat 19 Juni 2020.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 itu menambahkan, penggunaan obat ini memiliki efek samping yang berkepanjangan. Obat ini juga sejatinya digunakan untuk mengurangi peradangan, oleh karena itu harus sesuai dengan resep dokter agar tidak memberikan efek samping.

" Obat ini direkomendasikan untuk (pasien) Covid-19 yang (memiliki gejala) berat. Obat ini dianjurkan untuk penurunan kasus kematian 20 hingga 30 persen, obat ini bukan untuk terapi penyakit ringan atau OTG (orang tanpa gejala)," kata dia.

3 dari 3 halaman

Dexamethasone, tambah dia, juga bukan obat untuk menangkal penularan Covid-19. Tidak pula berfungsi sebagai vaksin. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan memantau peredaran obat ini.

" Obat ini tidak punya khasiat pencegahan, ini bukan vaksin, ini merupakan kombinasi obat-obatan.

Menurut dia, BPOM akan memantau peredaran dexamethasone. Meski sudah merekomendasikan, WHO belum menentukan obat atau regimen pengobatan tetap bagi perawatan pasien.

" WHO dan Kemenkes tetap berpesan ikuti anjuran dokter, hindari penggunaan antibiotik karena bisa sebabkan resistensi," dia menambahkan.

Beri Komentar