Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Presiden Joko Widodo Menghadiri Puncak Acara Hari Pers Nasional Di Ambon, Maluku (setkab.go.id)
Dream - Presiden Jokowi Widodo menyimpan optimisme pada media arus utama (mainstream). Meski digempur media sosial, Jokowi yakin media arus utama akan tetap bertahan menjadi sumber informasi yang bisa dipercaya.
Hal itu dicontohkan dengan keberadaan radio yang tidak lenyap karena kehadiran televisi. Bahkan, keduanya bisa sama-sama eksis dan saling melengkapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi.
" Media sosial tumbuh karena kecepatan, karena dinilai aktualitas, sementara media arus utama, media mainstream, menonjol karena akurasi, karena kedalaman materi-materinya," ujar Jokowi pada Puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2017 di Lapangan Tahitu, Kota Ambon, Maluku, dikutip dari Setkab.go.id Kamis, 9 Februari 2017.
Digitalisasi komunikasi yang terjadi saat ini membuat semua orang dapat menjadi produsen berita. Semua bisa membuat berita atas apa yang dilihat, dialami, sehingga media sosial penuh dengan berita.
" Ada berita yang obyektif, yang aktual, ada kritik yang baik, tapi banyak juga berita bohong, hoax, yang mengganggu akal sehat kita," kata Jokowi.
" Ada berita yang membuat kegaduhan, banyak berita yang penuh dengan caci maki, penuh dengan fitnah, memecah belah masyarakat, dan bahkan mengancam persatuan bangsa," ucap Jokowi.
Meski demikian, Jokowi mengakui pada akhirnya semua itu akan semakin membuat bangsa Indonesia semakin dewasa, matang, dan tahan uji. Dia mengingatkan pelaku media arus utama tidak perlu mengeluh dengan kabar yang di media sosial, karena ini merupakan fenomena di hampir semua negara.
" Yang harus kita lakukan bersama, adalah menghentikan berita bohong, hoax, dan yang memecah belah. Berita-berita fitnah harus kita hadapi," kata Jokowi.
Dalam situasi seperti sekarang ini, di mana berita bohong dengan sangat mudah tersebar secara luas, Jokowi mengingatkan media arus utama harus mampu meluruskan pemberitaan yang melenceng.
Selain itu, media arus utama harus mampu menjernihkan kekeruhan di media sosial dan bukan malah larut dan memungut isu-isu yang belum terverifikasi.
" Media arus utama, media mainstream tidak boleh runtuh dalam menjunjung tinggi etika jurnalistik, yang menuntut faktualitas, yang menuntut obyektivitas, yang menuntut disiplin dalam melakukan verifikasi," ucap dia.
Lebih lanjut, Jokowi memberikan apresiasi terhadap upaya Dewan Pers menjalankan verifikasi kepada perusahaan media demi menjamin profesionalitas dan perlindungan wartawan.
Dengan sertifikasi, kata Jokowi, masyarakat dapat mengetahui media mana saja yang bisa dijadikan rujukan dan dapat dipercaya. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya