Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Ketua Bidang Perubahan Perilaku STPC 19, Sonny Harry B Harmadi, menegaskan mobilitas masyarakat Indonesia sudah harus dikendalikan khususnya saat libur panjang Natal dan Tahun Baru. Ini mengingat positivity rate Covid-19 di Indonesia dalam sepekan berada di 18 persen.
" Sebetulnya itu jadi sebuah alarm agar penularan tidak boleh semakin tinggi, yang paling penting (dilakukan) yaitu mengendalikan mobilitas," ujar Sonny, disiarkan channel YouTube BNPB.
Karena itu, dia benar-benar mengimbau masyarakat untuk di rumah saja saat liburan. Dia mengingatkat, kasus Covid-19 mengalami peningkatan setiap kali libur panjang, bahkan mencapai 118 persen.
Libur panjang pertama saat Hari Raya Idul Fitri pada Mei. Dua pekan setelah libur, kasus Covid-19 di Indonesia meningkat sekitar 69 hingga 93 persen.
Libur panjang kedua saat HUT RI Agustus. Setelah libur tersebut, kasus Covid-19 meningkat sekitar 58 hingga 118 persen.
" Di akhir Oktober (libur panjang ketiga) meningkat 17 sampai 22 persen. Jadi walaupun kita sudah membangun narasi jangan libur ataupun liburan aman tanpa kerumunan, ternyata kasusnya masih naik," kata Sonny.
Sonny menjelaskan peningkatan kasus terjadi bukan karena mobilitas yang tinggi saja namun tingkat kepatuhan masyarakat menurun. Dia melihat masyarakat Indonesia mulai lupa bahaya Covid-19 terus mengancam.
" Kami melihat, masyarakat sudah ramai ya (ke luar rumah), seolah-olah pandemi ini sudah berakhir. Padahal harus dipahami kita masih dalam masa pandemi," kata dia.
Bahkan hasil pengamatan Satgas menunjukkan setiap libur panjang, tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol Covid-19 menurun. Terutama usai libur panjang Oktober.
" Kami mengamati setiap libur panjang selalu terjadi penurunan terhadap protokol Covid-19. Di bulan Oktober pas libur panjang, kepatuhan memakai masker turun terus," ucap Sonny.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Satuan Tugas Penanganan Covid-19 membentuk tim khusus terdiri dari gabungan pakar, dokter, maupun relawan kesehatan. Tim ini ini bertugas melakukan pemantauan terhadap para dokter yang terpapar Covid-19.
" Untuk memonitoring kualitas penanganan dokter yang terinfeksi dan hal pendukung yang dilakukan dalam proses perawatan," ujar Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito.
Wiku menegaskan keselamatan dokter dalam penanganan Covid-19 menjadi perhatian besar Pemerintah.
Demikian pula dengan para perawat, tenaga kesehatan di rumah sakit maupun klinik, petugas laboratorium dan lainnya yang terlibat langsung dalam penanganan Covid-19.
Mereka tidak libur dalam penanganan Covid-19. Semata demi memastikan keselamatan masyarakat.
" Maka dari itu, mari kita hargai kerja keras tenaga kesehatan dan berkomitmen untuk bekerja sama meringankan beban mereka," kata Wiku.
Lebih lanjut, Wiku meminta masyarakat selalu patuh pada protokol kesehatan agar tidak tertular Covid-19 yang menambah beban tenaga kesehatan. Juga agar tidak menjadi pasien positif Covid-19.
" Ini menjadi upaya dalam mengurangi angka kasus aktif," ucap dia.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, menegaskan, tidak ada toleransi atas lonjakan yang terjadi pada kasus aktif Covid-19. Kasus aktif tercatat telah melampaui level 100 ribu menandakan terjadinya penularan cukup cepat.
" Ini menunjukkan bahwa tren peningkatan kasus aktif cepat terjadi. Ini adalah hal yang tidak dapat ditoleransi," ujar Wiku.
Pergerakan data kasus aktif menunjukkan tren mengkhawatirkan. Dalam waktu satu bulan sejak November hingga Desember 2020, kasus aktif telah tembus level 100 ribu.
Dilihat dari penambahan kasus aktif baru harian, maka dalam satu bulan rata-rata bertambah antara 10 ribu hingga 30 ribu kasus. Padahal, penambahan sebanyak ini yang terjadi sebelumnya membutuhkan waktu selama tiga bulan, tepatnya antara Mei-Juli.
" Grafik kasus ini bukan hanya sekedar angka, namun merefleksikan jumlah nyawa manusia. Naik atau turunnya grafik ini ada di tangan kita semua. Setiap kenaikan grafik ini berpotensi menimbulkan kematian," ucap Wiku.
Wiku juga menyoroti data kematian. Dalam sepekan, tingkat kematian naik 3,0 persen. Kenaikan ini didominasi data dari lima provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatera Barat, dan Lampung.
Masih tingginya kematian pasien, kata Wiku, disebabkan penanganan fasilitas kesehatan yang belum memenuhi standar sehingga tidak bisa ditangani dengan cepat dan efektif. Dia pun meminta provinsi-provinsi dengan kematian tertinggi segera mengevaluasi penanganan sekaligus fasilitas pelayanan kesehatan.
" Lakukan penanganan yang maksimal untuk meningkatkan peluang kesembuhan. Ingat, satu nyawa yang hilang sangatlah berharga," kata Wiku, dikutip dari Covid19.go.id.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya