Seperti Al Baghdadi, Pemimpin Baru ISIS Diklaim Keturunan Nabi Muhammad

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 4 November 2019 07:00
Seperti Al Baghdadi, Pemimpin Baru ISIS Diklaim Keturunan Nabi Muhammad
AS diminta tak bersuka cita.

Dream - Media jaringan ISIS, al Furqan Foundation, mengumumkan pimpinan baru organisasi ekstrem tersebut. Dalam rilis audio yang tersebar, juru bicara ISIS mengatakan pemimpin mereka saat ini bernama Abu Ibrahim Al Hashimi Al Quraisyi.

Sama seperti pendahulu, Abu Bakar Al Baghdadi, sosok Hashimi diklaim punya garis keturunan dengan Suku Quraisyi, Nabi Muhammad.

Dalam laporan Metro.co.uk, tidak dijelaskan secara rinci siapa Hashimi. Kondisi itu terbilang tak biasa, karena umumnya ISIS mengidentifikasi para pemimpinnya, termasuk garis keturunan dan sejarah keluarganya.

" Dewan syura bertemu segera setelah mengonfirmasi kesyahidan dari Sheik Abu Bakar Al Baghdadi. Para pemimpin mujahidin setuju setelah berkonsultasi dengan saudara-saudara mereka dan bertindak sesuai dengan kehendak (al-Baghdadi) mereka berjanji setia kepada Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurayshi sebagai pemimpin baru orang-orang beriman," kata juru bicara ISIS, Abu Hamza al-Qurayshi.

Keterangan singkat yang beredar, Hashimi merupakan seorang sarjana, seorang pejuang dan 'emir perang' yang telah memerangi pasukan Amerika dan mengetahui 'perangnya'.

1 dari 8 halaman

Kekalahan ISIS

Rekaman suara itu juga mengonfirmasi kematian orang dekat al-Baghdadi dan juru bicara kelompok itu sejak 2016, Abu Hassan al-Muhajir.

Al-Muhajir terbunuh dalam operasi gabungan AS dengan pasukan Kurdi di Jarablus di Suriah utara pada hari Minggu, beberapa jam setelah al-Baghdadi meledakkan dirinya di persembunyiannya, di provinsi Idlib, Suriah.

Pembunuhan itu merupakan pukulan ganda bagi kelompok ekstremis itu karena hampir tujuh bulan ISIS mengalami kekalahan di wilayah teritorialnya di Suriah.

Abu Hamza, mendesak para pengikut untuk bersumpah setia kepada 'khalifah' baru dan berbicara kepada Amerika Serikat. " Jadi, jangan bersukacita Amerika atas kematian Sheik al-Baghdadi," kata Abu Hamzah.

" Tidakkah Anda tahu Amerika bahwa negara (IS) hari ini berada di ambang pintu Eropa dan berada di Afrika Tengah? Ia juga meluas dan tersisa dari timur ke barat," ujar dia.

2 dari 8 halaman

Pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi Dikabarkan Tewas

Dream - Pemimpin tertinggi Negara Islam Suriah dan Iraq (ISIS), Abu Bakar Al Baghdadi, dilaporkan tewas, Sabtu 27 Oktober 2019.

Kabar menyebut bahwa Abu Bakar Al Baghdadi tewas saat operasi yang digelar pasukan khusus Amerika Serikat. Berkembang kabar, dia tewas meledakkan diri dengan rompi bom.

Menurut Defense One, Abu Bakar meledakkan bom bunuh diri. Meski demikian kabar ini masih belum terkonfirmasi.

Sementara itu, laman ABC menulis aksi bunuh diri Abu Bakar Al baghdadi terjadi di sebuah gedung yang telah diduduki pasukan AS di Idlib, Suriah.

3 dari 8 halaman

Trump Mengeluarkan Cuitan

Saat ini, tentara AS masih menunggu konfirmasi kepastian kematian dari sidik jari dan metode biometrik lain.

Gedung Putih enggan memberikan pernyataan. Meski demikian, Presiden AS, Donald Trump sudah mengeluarkan cuitan.

" Sesuatu yang besar telah terjadi!" kata Trump.

4 dari 8 halaman

Kisah Budak ISIS, Dirudapaksa Saban Hari dan Dijual 20 Kali

Dream - Ini kisah tentang Hayfa Adi. Remaja yang pernah menjadi budah kelompok teroris, ISIS. Dia diculik di utara Irak. Kala itu, usianya masih sangat belia, baru 17 tahun.

Sejak penculikan 2014 itu, hari-harinya penuh nestapa. Selama dua tahun tak ada hari tanpa rudapaksa. " Persis, seperti domba," kata Hayfa, dikutip dari ABC.net, Rabu 11 September 2019.

Hayfa kini tinggal di Queensland, Australia. Tapi terkadang, ingatan saat di kampung halamannya muncul kembali.

Sang putra sulung, yang masih balita, kerap bertanya kehadiran sang ayah, Ghazi Lalo. " Sangat sulit, sangat sulit bagi kita semua," kata dia.

Bungsu mereka tidak pernah mengenal ayahnya. Dia dilahirkan di penangkaran ISIS.

" Dia tampak seperti ayahnya - matanya, mulutnya. Ketika aku melihatnya, aku merasa seperti suamiku bersamaku," kata dia.

" Kami hanya harus menemukan cara untuk bertahan hidup."

5 dari 8 halaman

Cerita Penculikan Bermula

Mantan budak ISIS, Hayfa Adi (Foto: ABC)© ABC

Mantan budak ISIS, Hayfa Adi dan putranya (Foto: ABC)

Hayda dan keluarga hancur dalam genosida ISIS terhadap orang-orang Yazidi di Irak utara dan Suriah.

Sebanyak 7.000 anggota etnis minoritas ini terbunuh dan 3.000 hilang.

Hayfa mengaku diculik ISIS saat sedang hamil tua. Dia berada di kediamannya, di desa Kocho, bersama Ghazi dan putra sulung mereka.

" Aku sudah membuat makan siang dan kami siap makan. Sekitar tengah hari, ada yang mengetuk pintu," kata dia.

Ketukan itu berasal dari paman Ghazi. Sang paman berlari dan menyebut bahwa ISIS sudah di Kocho. Kampungnya.

6 dari 8 halaman

Suami dan Tawanan Lain Dibawa ke Gedung Sekolah

Mantan budak ISIS, Hayfa Adi (Foto: ABC)© ABC

Mantan budak ISIS, Hayfa Adi (Foto: ABC)

Militan ISIS menggiring, 1.200 penduduk kampung itu gedung sekolah setempat. Mereka diminta memeluk keyakinan yang sama dengan para anggota ISIS tersebut.

" Setelah itu mereka membawa orang-orang itu. Kami tidak tahu ke mana militan ISIS membawa mereka," kata dia.

Saksi mata mengatakan, kepada PBB, orang-orang itu dibawa pergi dan ditembak.

Tapi, bagi Hayfa, harapan itu tetap dipegang teguh: suaminya selamat dan dapat kembali bersama keluarganya.

7 dari 8 halaman

Dirudapaksa

Agustus 2014. Tanggal itu diingat betul Hayfa dan gadis Yazidi lainnya.

Selama lebih dari dua tahun, Hayfa diperdagangkan di antara militan di Irak dan Suriah, dibeli dan dijual kembali. Dipaksa mempertontonkan bagian vitalnya.

Hayfa berulang kali dirudapaksa. Tetapi, ketakutan terbesarnya yaitu kehilangan anak-anaknya.

" Mereka mengambil putra tertua saya selama satu bulan karena saya tidak tidur dengan penculik saya," kata dia.

 

8 dari 8 halaman

Lolos Karena...

Hayfa dan putra-putranya akhirnya melarikan diri dari ISIS ketika mertuanya membayar penyelundup untuk membeli kebebasannya.

Mereka tiba di Toowoomba, Queensland dengan visa kemanusiaan 2018. Dia bergabung dengan komunitas Yazidi yang berkembang dengan lebih dari 800 orang.

Anak-anak lelaki pergi ke taman kanak-kanak dan sekolah setempat, dan Hayfa belajar bahasa Inggris di TAFE.

" Saya sangat nyaman di sini bersama anak-anak saya," katanya.

" Yang paling penting adalah kehidupan anak-anakku, bukan hidupku. Dan tentu saja jika suamiku kembali, hidupku akan benar-benar hebat."

Beri Komentar