5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Devonte Hart (The Independent)
Dream - Raut muram meruap dari wajah itu. Tatapannya kosong. Menerawang kesuraman. Air mata berlinang dari sudut-sudut penglihatan. Menumpahkan kepiluan. Dalam kepasrahan, kedua tangannya erat memeluk polisi berseragam.
Dialah Devonte Hart. Remaja berusia 12 tahun yang berada di tengah kerusuhan Ferguson, Missouri, Amerika Serikat. Gambar pedih itu menjadi salah satu yang paling menggetarkan hati dari berbagai foto kekerasan di Ferguson.
Dikutip Dream dari The Independent, Selasa 2 Desember 2014, gambar itu merupakan hasil jepretan fotografer lepas, Johnny Nguyen, yang dipublikasikan The Oregonian. Foto itu dengan cepat menyebar, termasuk diunggah ke laman Facebook. Hingga kemarin, foto itu telah dibagikan 400.000 kali.
Devonte merupakan salah satu anak yang diadopsi oleh keluarga Hart di West Linn, pinggiran Portland. Dia bergabung dengan aksi protes menentang keputusan juri yang membebaskan petugas Darren Wilson yang telah menembak pemuda kulit hitam, Michael Brown.
Dan polisi yang dipeluk oleh Devonte itu diidentifikasi sebagai Sersan Bret Barnum. Polisi lalulintas yang ditugaskan membantu mengatasi kekacauan lalulintas dan kerumunan dalam kerusuhan yang terjadi berhari-hari itu.
Dalam sebuah postingan di Facebook, Sarah Hart, menjelaskan bahwa anak angkatnya itu turut melakukan protes atas kebrutalan dan rasisme yang dilakukan polisi.
" Devonte berjuang dengan tanpa rasa takut ketika dia datang ke polisi dan orang-orang yang tidka memahami kompleksitas rasisme yang lazim di masyarakat kita," tulis Sarah.
" Dia gemetar memegang tanda Free Hugs karena dia berani berdiri sendirian di depan barikade polisi," tambah dia sebagaimana dilansir The Oregonian.
Sarah mengatakan, Barnum -polisi yang dipeluk Devonte– mendekati anak angkatnya itu. Barnum mengulurkan tangannya sambil bertanya tentang sekolah dan rencananya untuk musim panas.
" Interaksi mereka mulanya tidak nyaman. Ada pertanyaan generik, tapi satu masalah penting menusuk hati. Dia bertanya kepada Devonte mengapa ia menangis," kata dia.
Menurut Sarah, Devonte mejawab pertanyaan Barnum itu. Devonte mengaku menangis karena merasa prihatin dengan kebrutalan polisi terhadap anak-anak muda kulit hitam.
" Aku tahu. Maaf. Maafkan aku," tulis Sarah menirukan Barnum. Dan Barnum pun memeluk Devonte dengan sepenuh hati, seperti foto yang telah tersebar ke penjuru dunia itu. Foto yang menyuarakan perdamaian, tanpa mengenal ras. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?