Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Ilustrasi
Dream - Apakah Anda termasuk orang yang sering menjadikan kerokan sebagai solusi saat terserang masuk angin? Kerokan kadang sering dikatakan sesuatu yang kampungan, namun sebagian besar penduduk Indonesia menganggap kerokan sebagai solusi menyembuhkan gejala meriang yang disertai flu dan mual atau masuk angin.
Pengobatan tradisiona itu juga disebut-sebut penyebab iritasi kulit, karena menekan, menggeserkan benda tumpul dipermukaan kulit. Meski begitu, pengobatan ini telah lama dikenal sejak zaman penjajahan dengan menggunakan satu koin beserta minyak sebagai pelumas.
Saat Anda dikerok seringkali mengeluarkan sendawa atau buang angin melalui mulut. Hal itu dikatakan baik karena sering diartikan angin yang ada dalam tubuh telah dikeluarkan.
Dilansir dari antozz.wordpress.com, menurut Didik Tamtomo, selaku dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, yang menjadikan kerokan sebagai bahan penelitian untuk menyabet gelar doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, secara ilmiah,pengobatan tradisional kerokan ini terbukti mampu mengobati gejala masuk angin atau sindroma dingin yang memiliki gejala nyeri pada otot.
Pada kerokan, secara ilmu biologi molukuler terjadi suatu reaksi inflamasi atau radang dengan segala respon yang mengikutinya seperti perubahan diameter vaskuler (pembuluh darah), migrasi sel darah putih (leukosit) dan pengeluaran mediator inflamasi seperti IL-1 beta, Clq, C3, Beta endorfin dan PGE2 (Faktor pertumbuhan tulang).
Kerokan juga memberikan rangsangan pada keratinosit dan endotel atau lapisan paling dalam pembuluh darah yang akan bereaksi dengan munculnya propiomelanokortin (POMC). POMC merupakan polipeptida (gabungan asam amino) yang kemudian akan dipecah dengan hasil akhir salah satunya adalah Beta endorfin (hormon yang dikeluarkan otak saat stress).
Meski efektif dan murah meriah, pengobatan ini juga masih menarik pro dan kontra dari beberapa masyarakat tertentu dan kalangan dokter. Ada yang mengatakan bahwa kerokan dapat merusak jaringan kulit karena menggesekan benda logam, koin atau alat bantu kerokan lainnya. Meski begitu kerokan telah mendapatkan uji coba dari beberapa ahli kesehatan, kerokan yang benar tidak akan menimbulkan rasa sakit apalagi melukai kulit. Menggunakan minyak yang berfungsi untuk mneghangatkan serta melincinkan permukaan kulit saat pengobatan berlangsung.
Timbulnya warna kemerahan pada kulit bisa menjadi petunjuk seberat apakah gejala masuk angin yang diderita, berat atau ringan. Ahli akupuntur juga menyarankan, sebaiknya kerokan dilakukan di titik-titik urat syaraf motorik yang terangsang sehingga melancarkan sirkulasi darah.
Adapun cara kerokan yang benar dengan mengerok lurus sejajar dengan tulang belakang menyamping lalu sejajar dengan arah bahu agar melalui titik tertentu. Satu lagi yang terpenting, hindari kegiatan mandi atau membasuh tubuh dengan air usai melakuakn kerokan, karena kondisi pori-pori kulit dalam keadaan terbuka.
Usai melakukan kerokan sebaiknya Anda beristirahat sejenak untuk merileksasikan tubuh agar lebih prima dan sembuh dari masuk angin. (Ism, Blog Antozz.wordpress.com)
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha