Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Anak-anak Bermain
Dream - " Kenapa langit warnanya biru?" , " Kenapa kakak harus sekolah?" , " Kenapa ayah harus berangkat kerja" . Sederet pertanyaan " kenapa" dilontarkan si balita setiap hari ketika ia melihat sesuatu yang baru atau berhadapan dengan situasi yang asing.
Menanggapi pertanyaan " kenapa" dari balita memang cukup menguras kesabaran. Tapi ketahuilah pertanyaan tersebut merupakan pertanda kalau perkembangan otaknya mengalami perkembangan signifikan.
" Anak-anak, terutama balita, hanya memahami apa yang dapat mereka lihat, sentuh dan dengar. Ketika mengajukan pertanyaan, mereka mencoba mencari tahu dan berpikir keras.
Pertanyaan mengapa pun seakan tak ada habisnya," ujar Judy Arnall, seorang konsultan pengasuhan dan penulis buku Discipline Without Distress and Plugged-In Parenting.
Para orangtua sebaiknya selalu meladeni pertanyaan " mengapa" anak, tidak peduli seberapa menjengkelkan dan memakan waktu. Akan sangat baik jika orangtua menjawab pertanyaan
anak dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti.
Jawaban yang diberikan semacam memberi " makanan" pada otak si kecil dan menstimulasinya untuk lebih berpikir kritis.
" Mengajukan pertanyaan adalah rasa ingin tahu, rasa tersebut adalah modal untuk belajar dalam bertahan hidup. Orangtua jangan sampai menutup rasa ingin tahu tersebut dengan jawaban yang ketus. Jika tidak tahu jawabannya, akan sangat baik jika mencari tahu," kata Arnall.
Ungkapkan saja jika Anda tidak tahu jawabannya dan akan mencari tahu. Mencari jawaban bersama juga bisa dilakukan. Anda bisa mengajak si kecil ke toko buku atau mencari informasi di internet, untuk mencari jawabannya.
Untuk anak yang lebih besar, jawaban rumit juga kadang diperlukan untuk memancing pemikiran kritisnya. Jadi ayah bunda, jawablah selalu pertanyaan " kenapa" dari si kecil.
(Sah/Sumber: Todays Parent)
Baca Juga: Yuk, Bijak Gunakan Smartphone di Samping Anak Teknik Mudah Redakan Perut Kembung pada Bayi Trik Wajib Dicoba Saat `Menghukum` Anak Cara Seru Ajari Balita Bicara Tips Cegah Unggahan Foto Anak di Sosmed Disalahgunakan
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun