Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (hanyatauaja.blogspot.co.id)
Dream - Jenazah utuh meski telah terkubur selama puluhan tahun mungkin merupakan keajaiban. Kasus semacam ini tentu sangat jarang terjadi dan sulit ditemukan. Nyatanya, kasus ini benar-benar terjadi.
Syamsudin telah meninggal 35 tahun silam. Tetapi jenazahnya tetap utuh meskipun telah dikubur puluhan tahun.
Hal itu diketahui ketika ada penggalian kuburan baru di samping Syamsudin. Sang penggali kubur bernama Siwul mendapati kain kafan Syamsudin masih utuh dan bersih, begitu juga dengan jasadnya.
Selama hidupnya, Syamsudin dikenal sebagai guru ngaji di Desa Jebres, Solo, Jawa Tengah. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani sekaligus guru ngaji tersebut dikenal khusyuk dalam beribadah.
© Dream
Kendati hanya berprofesi guru ngaji dengan upah tidak seberapa, Syamsudin sangat tabah menjalani hidupnya. Bahkan ketiga anaknya ia beri nafkah seadanya. Di samping itu, Syamsudin pun dikenal sangat santun dan ramah kepada setiap orang.
Apa yang dilakukan Syamsudin sebagai tindak lanjut dari ajaran agama, seorang yang dicintai Allah bukan orang kaya, melainkan orang ikhlas dan taat ibadah. Karena itulah, Syamsudin memilih mengabdikan dirinya sebagai guru ngaji di kampungnya.
Kepribadian almarhum yang baik itu semakin dikagumi ketika jenazahnya ditemukan masih utuh.
© Dream
Kisah itu terungkap dari pengakuan Margiono, alias Siwuk, saksi mata yang menemukan kafan Syamsudin.
Margiono mengisahkan jenazah Syamsudin diperkirakan sudah dikubur sekitar 35 tahun. Hal itu bisa dilihat dari kematiannya yang diperkirakan pada tahun 1970-an.
Pada masa itu pemerintah Indonesia termasuk ketegori masa pertanian, bahkan banyak penduduk kota masih mayoritas petani. Namun, Syamsudin kala itu sudah menjadi guru ngaji, meskipun tidak berbekal pendidikan pesantren.
"Pak Syamsudin dulu guru ngaji. Santri dari kalangan masyarakat miskin dan bawah yang ingin belajar Alquran. Tempat pengajiannya di rumah, kadangkala di musala. Dia perintis guru ngaji di masa itu," ucap Siwuk. (Sah)
Selengkapnya, baca pada tautan ini.
Kirimkan tulisan atau kisah yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

3 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga, Menurut Ahli Gizi

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia