Menag Harap DPR Setujui Usulan Kenaikan Honor Penyuluh Agama

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Rabu, 8 Agustus 2018 09:02
Menag Harap DPR Setujui Usulan Kenaikan Honor Penyuluh Agama
Lukman menilai tugas penyuluh semakin kompleks.

Dream - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengharapkan usulan kenaikan honor penyuluh agama dapat disetujui DPR. Hal ini mengingat tugas penyuluh agama yang semakin berat.

" Saya titip yaitu tentang honorarium penyuluh agama, mudah-mudahan teman-teman di Banggar (Badan Anggaran DPR) tidak lupa karena tugas mereka (penyuluh agama) semakin kompleks," ujar Lukman di Jakarta, Selasa 7 Agustus 2018.

Kementerian Agama telah mengajukan usulan tersebut ke DPR. Secara garis besar, penyuluh agama berperan penting dalam pembimbingan kehidupan beragama di masyarakat, juga untuk menangkal paham radikalisme.

Direktur Penerangan Islam, Khoiruddin, mengatakan saat ini ada 45 ribu tenaga penyuluh agama di seluruh Indonesia. Hal itu menjadi sebab lamanya proses persetujuan kenaikan honor oleh DPR.

" Sistem penganggarannya kan cukup besar, kalau penambahan hampir Rp450 miliar," ucap Khoiruddin.

Khoiruddin mengatakan apabila DPR memberikan persetujuan di bulan ini, maka dana penambahan honor tersebut dapat cair Januari 2019. Selain untuk penyuluh agama, Kemenag juga mengajukan tambahan biaya operasional untuk Kantor Urusan Agama (KUA).

" Operasional KUA tadinya Rp3 juta menjadi Rp5 juta. Jumlahnya ada 4.000 (KUA)," ucap dia.

Khusus untuk anggaran operasional KUA, Khoiruddin menjamin dapat cari tahun depan. Sebab, DPR sudah memberikan persetujuan atas usulan dana operasional tersebut.

" Insya Allah 2019," ujar dia.

1 dari 3 halaman

Potensi Besar, Menag Ingin Badan Wakaf Indonesia Mandiri

Dream - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap Badan Wakaf Indonesia (BWI) akan menjadi lembaga yang mandiri. Menurut Lukman, BWI memiliki potensi mandiri dari segi pendanaan mengingat badan ini mengelola aset umat.

" Poin yang ingin saya tekankan adalah bagaimana membangun kemandirian dengan menyempurnakan sejumlah rekomendasi, melakukan regulasi melalui rekomendasi yang dilahirkan melalui Muzakarah Wakaf Nasional ini," ujar Lukman, dikutip dari kemenag.go.id.

Lukman mencoba membandingkan BWI dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Meski secara pengelolaan BWI berbeda dengan Baznas, bukan berarti kemandirian tidak bisa diwujudkan.

" Saya melihat BWI berbeda dengan Baznas, karena Baznas ada anggaran sendiri untuk biaya operasional," kata Lukman.

Dalam Baznas terdapat amil dengan tugas memungut dan mengelola dana zakat. Untuk menjalankan tugasnya, amil berhak atas biaya operasional yang diambilkan dari sebagian dana zakat

Lukman menilai hal ini juga bisa diwujudkan pada BWI. Dia berharap hal ini dapat dibahas dalam Muzakarah Wakaf Nasional sehingga bisa menjadi dasar adanya regulasi mengenai wakaf.

" Tentunya regulasi ini dibuat setelah melakukan kajian dari aspek hukum agama, dari syariat-syariatnya seperti apa," kata dia.

Lebih lanjut, Lukman berpendapat terdapat potensi BWI menjadi nazhir (pengelola wakaf) jika melihat norma pada Undang-undang Wakaf.

" Begitu besar potensi harta wakaf ini kalau dikembangkan secara profesional secara lebih baik. Karenanya juga, sejumlah sumber daya manusia yang ada di BWI ini juga harus diperlakukan secara profesional," kata Lukman.

(Sah)

2 dari 3 halaman

Menag Dorong Kaum Moderat Islam Ramaikan Sosmed

Dream - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyoroti ramainya media sosial dengan unggahan kaum konservatif Islam. Hal ini berdampak pada sedikitnya pandangan Islam moderat yang mengajak kedamaian dan toleransi.

" Saya kira, sudah saatnya kaum moderat untuk speak up," ujar Lukman dalam Dialog Keagamaan dan Kebangsaan di Surabaya, Jawa Timur, dikutip dari kemenag.go.id, Selasa 17 Juli 2018.

Media sosial merupakan wadah yang sangat bermanfaat untuk menyebarkan gagasan. Sayangnya, menurut Lukman, media sosial lebih banyak diisi unggahan atau omongan kelompok ekstrem, baik terlalu konservatif maupun liberal.

Padahal, menurut dia, jumlah kelompok ini sebenarnya begitu kecil. Tetapi mereka begitu riuh di media sosial lantaran tidak ada wacana pembanding dari kelompok moderat.

Lukman lantas berharap kelompok moderat Islam dapat memberikan pengetahuan dan wawasan tentang praktik moderasi beragama bagi masyarakat. Dia sangat mendukung segala bentuk upaya menyebarkan gagasan Islam moderat.

Lebih lanjut, Lukman meminta seluruh ormas keagamaan menyebarkan pencerahan kepada masyarakat tentang kehidupan beragama yang damai. Dia juga mengaku telah mendorong jajaran Kemenag mulai penyuluh agama, guru agama, madrasah hingga perguruan tinggi mempromosikan moderasi beragama.

" Kementerian Agama saat ini membawahi 58 PTKIN. Saya harap PTKIN dapat menjadi agen untuk menyebarkan wacara tentang moderasi beragama," kata Lukman.

(Sah)

3 dari 3 halaman

Kemenag: Takmir Masjid Akui Ada Penceramah Radikal

Dream - Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag), Khoiruddin, mengatakan telah menggelar pertemuan dengan sejumlah takmir atau pengurus masjid di seluruh DKI Jakarta. Pertemuan ini menindaklanjuti hasil survei yang menyebut 41 masjid terpapar pahal radikal.

" Hasil pertemuan memang mereka mengaku ada penceramah memberikan ujaran kebencian atau menjelekkan golongan lain," ujar Khoiruddin di Hotel Ciputra, Jakarta, Rabu 11 Juli 2018.

Tetapi, kata Khoiruddin, para takmir menyatakan muatan ceramah yang mengandung unsur radikal belum sampai ke tahap berbahaya.

" Maka kita pahami bersama. Pemahaman itu (perbedaan) ini harus utuh menjalin kasih sayang terhadap pemikiran yang berbeda dengan kita," ucap dia.

Meski demikian, Khoiruddin membantah masjid disebut telah menyebarkan paham radikal. Menurutnya, masjid adalah benda mati, yang digunakan untuk ibadah.

" Kami masih meragukan data itu tentang masjid radikal. Cuma mungkin sasarannya para da'i yang ketika berceramah memiliki konten yang bertentangan dengan NKRI dan menjelekkan golongan lain, sehingga disangka satu gerakan masjid yang radikal," kata dia.

Sebelumya, Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komjen Syafruddin menolak secara tegas pernyataan yang menyebut masjid disebut radikal.

" Makanya hati-hati jangan sampai dilaknat oleh Allah SWT menuduh-nuduh masjid radikal, tidak mungkin. Nah saya membantah," ujar Syafruddin saat bertemu dengan pengurus Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di PTIK, Jakarta Selatan, Rabu 11 Juli 2018.

Survei tersebut dilakukan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Dari 100 masjid yang disurvei, 41 di antaranya diduga terpengaruh paham radikal. (ism)

Beri Komentar