Protokol 3T Sama Pentingnya dengan 3M dalam Mencegah Penyebaran Covid-19

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 13 November 2020 12:00
Protokol 3T Sama Pentingnya dengan 3M dalam Mencegah Penyebaran Covid-19
3T dapat untuk deteksi dini sehingga orang bergejala dapat segera ditangani.

Dream - Protokol kesehatan 3M: memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, sangat penting diterapkan saat pandemi. Tetapi, masyarakat juga harus memerhatikan peneparan protokol 3T: tracing, testing, dan treatment, untuk menekan penyebaran Covid-19.

Penasehat Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Monica Nirmala, mengingatkan pentingnya masyarakat untuk tidak hanya menerapkan 3M, namun juga 3T. Sebab, protokol 3T dapat mendeteksi orang terpapar Covid-19 lebih dini.

" Dengan kita tahu lebih awal bahwa kita ada Covid-19, maka kita bisa ditangani secara lebih cepat juga. Jadi ga nunggu parah baru berobat. Lalu dengan deteksi dini ini juga kita jadi bisa juga menghindari atau mencegah penularan atau kita menularkan ke orang lain," ujar Monica dalam dialog Optimisme Masyarakat Terhadap 3T (Tracing,Testing,Treatment), disiarkan channel YouTube FMB9ID_IKP.

Monica mengatakan, pola 3T dijalankan untuk mengetahui seseorang terpapar atau tidak. Petugas akan melakukan tracing atau pelacakan kontak dekat jika ditemukan kasus baru positif Covid-19.

1 dari 4 halaman

Treatment

Pola ini dijalankan dengan bertanya siapa saja yang pernah kontak dengan kasus baru. Setelah kontak didapatkan, petugas melaksanakan testing untuk mengetahui apakah terjadi penularan atau tidak pada kontak tersebut untuk kemudian dilakukan treatment atau perawatan dalam bentuk isolasi.

" Jadi isolasi baik di fasilitas khusus yang disediakan pemerintah, di rumah sakit, ataupun isolasi di rumah masing-masing jika memang tempat tinggalnya memungkinkan untuk isolasi mandiri," kata Monica.

Selama dalam perawatan, orang yang bergejala Covid-19 akan dipantau oleh tenaga kesehatan. Dengan begitu, kondisi mereka bisa diketahui sehingga bisa segera ditangani jika memburuk dan berpotensi fatal.

 

2 dari 4 halaman

Masyarakat Turut Berkontribusi

Monica mengimbau masyarakat turut berkontribusi dengan bersedia menjalankan testing. Selain itu, masyarakat harus kooperatif kepada tenaga kesehatan.

" Treatment dalam bentuk isolasi maupun di rumah sakit maupun di rumah ini juga perlu kooperatif membiarkan diri dirawat sejak dini. Jadi jangan menunggu sakitnya parah baru ke rumah sakit," kata dia.

Lebih lanjut, Monica mengingatkan tidak hanya mementingkan 3M namun juga 3T. Karena penanganan Covid-19 tidak bisa hanya mengandalkan satu protokol.

" Jadi kita butuh semua, nggak bisa 'ah vaksin aja' artinya yang lain kita tinggalkan. Nggak bisa. Tapi kita tetap terus harus melakukan 3M dan 3T ini. Sama sekali tidak boleh kendor," ucap dia.


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

3 dari 4 halaman

Perbedaan Pemeriksaan Covid-19 Lewat Tes Swab dan Rapid Test

Dream - Selama ini masyarakat mengenal dua jenis tes pemeriksaan Covid-19 yaitu melalui PCR (Polymerase Chain Reaction) swab dan rapid test. Dua metode untuk mendiagnosis seseorang terhadap infeksi virus corona ini sangat berbeda dan biaya pemeriksaan bervariasi pula.

Meski sama-sama berfungsi mendeteksi ada tidaknya virus Covid-19 di dalam tubuh, terkadang hasil pemeriksaan swab test dan rapid test berbeda. Kondisi ini sering kali membuat masyarakat bingung dan terkadang tak percaya dengan hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan. 

Pada kasus yang sering terjadi, hasil rapid test menunjukkan seseorang non reaktif terhadap virus corona, namun begitu menjalani tes swab, pasien dinyatakan positif Covid-19. Lalu apa yang membuat hasil keduanya berbeda?

Dokter Spesialis Patologi Klinik dari Halodoc, dr. Theresia Novi, Sp.PK tak sepakat dengan anggapan ketidakakuratan tes antibodi untuk mendeteksi Covid-19. Menurutnya, berbagai metode tes untuk mendeteksi Covid-19 yang ada memiliki porsi masing-masing.

“ Untuk PCR dia bisa tahu lebih awal dari antigen. Karena PCR ini virusnya sedikit aja dan dilakukan amplifikasi. Amplifikasi itu diperbanyak sehingga yang tadinya sedikit bisa kita deteksi,” jelas dr. Theresia dalam konferensi pers virtual, Rabu 11 November 2020.

4 dari 4 halaman

Ini yang Menentukan Kecepatan Hasil Tes

Jika tes PCR dilakukan dengan teknik usap atau swab, rapid test dilakukan dengan mengambil darah vena maupun darah kapiler yang biasanya diambil dari jari untuk memeriksa antibodi.

Berbeda dengan PCR, rapid test hanya bisa mendeteksi virus corona jika kadar virusnya tinggi.

Pada rapid test, hasilnya lebih lama keluar karena menunggu timbulnya antibodi yang bisa memakan waktu beberapa hari setelah tubuh terinfeksi virus corona, sehingga lebih lama terdeteksi.

“ Antibodi sebagai respons tubuh munculnya lebih lambat, mulai tiga sampai lima hari baru muncul, tapi hilangnya lebih lama. Mungkin ada pasien tanya sudah reaktif, kemudian sudah sembuh, masih saja reaktif. Karena antibodi bisa bertahan berbulan-bulan. Bahkan ada yang dari awal sampai sekarang antibodinya masih bertahan,” pungkas dr. Theresia.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

 

 

Beri Komentar