Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan uji coba pengobatan Covid-19 dengan Hydroxycloroquine dihentikan. Obat itu dinyatakan tidak menunjukkan tanda-tanda positif pada kondisi pasien penderita Covid-19.
WHO menerima rekomendasi Komite Pengarah Uji Coba Solidaritas Internasional untuk menghentikan uji coba Hydroxyclroroquine serta lopinavir/ritonavir, kombinasi obat yang yang digunakan untuk pasien penderita HIV/AIDS.
Komite Pengarah Internasional membandingkan obat itu dengan perawatan standar untuk pasien Covid-19 di rumah sakit. Sebuah tinjauan menunjukkan hasil dari pembandingan tersebut.
" Hydroxycloroquine dan lopinavir/ritonavir menghasilkan sedikit atau tidak ada pengurangan dalam angka kematian pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, jika dibandingkan dengan standar perawatan," demikian pernyataan WHO di laman resminya, who.int.
Sementara, tidak ada bukti kuat yang menyebutkan peningkatan mortalitas pada pasien di rumah sakit yang diberi obat tadi.
Ada beberapa tanda keamanan terkait temuan laboratorium klinis dari uji coba tersebut. Namun demikian, keputusan penghentian ini tidak akan berpengaruh terhadap uji coba pada pasien yang tidak dirawat di rumah sakit.
Atau kepada mereka yang menerima obat sebelum kemungkinan terpapar virus corona. Sejumlah peneliti meragukan efektivitas Hydroxycloroquine sebagai obat untuk Covid-19.
Tim peneliti di Inggris pada Juni mendapat temuan obat yang umumnya digunakan untuk malaria tersebut tidak ampuh melawan virus corona.
Penelitian ini melibatkan lebih dari 11 ribu pasien di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.
Para pasien itu dirawat dengan beberapa standar obat. Seperti obat kombo HIV lopinavir/ritonavir, antibiotik azithromycin; steroid dexamethasone, obat antiinflamasi tocilizumab, atau plasma dari orang yang sembuh dari Covid-19.
Obat tersebut sempat dipuji Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia juga mendorong warga AS menganggapnya sebagai profilaksis meski belum terbukti manfaat kesehatan dan keamanannya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya