Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Sutopo Purwo Nugroho
Dream - Sutopo Purwo Nugroho adalah sosok hebat di balik penanganan bencana di Indonesia. Lewat Sutopo, kabar bencana tersiar di seluruh negeri bahkan hingga ke dunia.
Semua turut sedih ketika tersiar kabar Pak Topo, sapaan akrabnya, divonis menderita kanker paru-paru stadium 4. Tapi, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini memilih menolak meratapi nasib.
Bagi dia, mengabarkan bencana dan dampaknya adalah tugas yang harus dijalankan. Semangatnya menjalankan tugas mengalahkan kesedihannya.
Kegigihan Sutopo mendapat banyak sekali apresiasi. Bahkan tidak sedikit media internasional membuat pemberitaan mengenai profil Sutopo, sang penyintas kanker.
Beberapa di antaranya seperti Straits Times. Media berbasis di Singapura ini menggambarkan bagaimana Sutopo tanpa lelah melayani para awak media yang membutuhkan informasi mengenai perkembangan dampak bencana.
" Pria 48 tahun itu menolak menyerahkan obor, selalu menyediakan diri untuk konferensi pers harian, menerima telepon wartawan dan berkomunikasi di media sosial dengan cepat, bahkan saat kondisinya melemah dari hari ke hari," demikian pemberitaan Straits Times.
Kepada awak media, Sutopo meminta maaf apabila kini tidak bisa menanggapi semua pertanyaan. " Jika saya sehat, saya akan menjawab semuanya," kata Sutopo.
Kondisi Sutopo kini kian kurus dan pucat. Dia divonis dokter hanya bisa bertahan selama satu tahun.
Sutopo mengaku telah berjanji kepada istrinya untuk tidak terlalu sibuk. Nyatanya, kinerjanya hanya sedikit berkurang.
Bahkan saat berbaring di atas tempat tidur rumah sakit pada Februari lalu, Sutopo tetap mengunggah 200 kata tentang bencana tanah longsor.
Pada Agustus, dia mengirimkan laporan tentang bencana mematikan gempa di Pulau Lombok, berlanjut ke Bali. Cuitan itu dibuat hanya beberapa menit setelah dia menjalani Kemoterapi.
" Dokter menyakinkan saya dengan kemoterapi dan radiasi, saya mungkin bisa bertahan satu atau dua tahun lagi," kata Sutopo.
" Sakit dan kematian hanya di tangan Tuhan, tetapi selama saya masih hidup, saya tetap ingin melakukan yang terbaik untuk melayani orang lain," ucap dia dengan penuh semangat.
Sehat selalu, Pak Topo. Semangatmu menginspirasi. (ism)
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?


Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest