6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Kondom (Foto: Shutterstock)
Dream - Kebanyakan dari pria menyimpan alat kontrasepsi atau kondom di dalam saku atau dompet. Hal itu karena dianggap paling efektif apabila sewaktu-waktu ingin digunakan.
Rupanya, hal itu keliru. Berdasarkan penelitian terbaru, kondom yang disimpan di dalam saku atau dompet terbukti fungsinya akan menjadi sama saja dengan yang sudah dipakai.
Meyimpan dengan cara seperti ternyata rawan kerusakan pada kondom. Kondom nantinya bisa terkena gesekan sehingga dikhawatirkan akan timbul robekan.
Jika menggunakan kondom yang kondisinya tidak baik, tentu akan membuat penggunanya rentan terkena penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS).
Selain akan mudah rusak, kondom yang disimpan di saku dan dompet juga akan lebih rentan terkena kuman.
Para peneliti juga mengungkapkan, jika kondom disimpan di tempat panas, lembab, banyak cahaya akan mempengaruhi kualitasnya.
Mereka menyarankan, sebaiknya kondom disimpan di tempat yang sejuk sehingga tidak mempengaruhi kualitasya.
Jadi, mulai sekarang jangan lagi menyimpan kondom di saku atau dompet agar kualitas kondom terjaga dengan baik.
(ism, Rahma Yultus, Sumber: boldsky.com)
Dream - Kondom selama ini selalu digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan. Tapi ternyata kondom juga memiliki fungsi lain dan malah bisa meningkatkan kesempatan hamil dan membantu proses pembuahan.

The Stork, sebuah alat yang terdiri dari kondom dan 'tongkat' untuk membantu proses pembuahan gara cepat hamil, kini sedang banyak diperbincangkan. Dirilis pada 2014 lalu di Inggris, alat ini diklaim memiliki tingkat kesuksesan sebesar 20 persen.
Alat tersebut mengadaptasi proses pembuahan yang sederhana atau dikenal dalam istilah medis intracervical insemination (ICI). Cara kerjanya yaitu dengan menampung sperma pasangan
dalam cup yang bentuknya seperti kondom. Cup berisi sperma tersebut kemudian dimasukkan ke leher rahim dengan aplikator khusus.
Cup kemudian dibiarkan di dalam leher rahim selama 4 hingga 6 jam, hal ini untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya pembuahan sel. Begitu dimasukkan, pemakainya bisa sambil melakukan aktivitas lain. Setelah 6 jam, cup tersebut bisa dilepas dan dibuang.
Alat ini sebenarnya bisa jadi alternatif untuk pasangan yang sedang berusaha memiliki anak dan belum berkonsultasi dengan dokter. Pihak pengawasan obat dan makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/ FDA) telah menyetujui peredaran Th Stork.
Sampai saat ini The Stork baru beredar di 3 negara, yaitu Inggris, Amerika Serikat dan Australia. Untuk harganya yaitu £100 atau Rp 1,6 juta. Tertarik mencoba?
Sumber: BellyBelly
Dream - Demi membangun keluarga yang berkualitas, baik dari aspek kesehatan, mental dan finansial, perencanaan sebaiknya dilakukan secara matang. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kontrasepsi demi mengatur jarak kehamilan.

Penggunaan kontrasepsi merupakan solusi efektif bagi pasangan suami istri yang ingin menunda kehamilan. Terutama jika anak masih berusia di bawah 2 tahun dan masih butuh perhatian dari orangtua.
" Tujuan memakai alat kontrasepsi itu untuk mencegah, menjarangkan atau menghentikan. Mungkin kalau masih muda, ingin mencegah. Tapi kalau hamilpertama di usia 35, lebih baik dimaksimalkan di usia itu lalu dihentikan," tutur dr. Dian Derdameisya, spesialis kandungan, saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan.
Jika ingin menggunakan alat kontrasepsi, hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih jenis kontrasepsi yang paling pas untuk tubuh. Alat kontrasepsi cukup beragam dan bisa dipilih sesuai kebutuhan.
Ada yang berupa kondom, pil, IUD, patch dan suntikan. Dalam memilih jenis kontrasepsi jangan ragu untuk berkonsultasi baik dengan dokter maupun bidan, untuk mengetahui jenis, keunggulan dan mendapatkan jenis kontrasepsi yang paling pas.
" Kalau sudah memiliki satu anak, lebih baik menggunakan alat kontrasepsi di dalam rahim untuk pencegahan jangka panjang. Sedangkan yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal lebih dari 5 tahun, disarankan beralih ke alat non-hormonal," ujar Widwiono, Direktur Bina Kesehatan Keluarga Berencana (KB) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Memilih alat kontrasepsi yang tepat tidak hanya bisa mengatur masa kehamilan. Tapi juga meningkatkan kesempatan untuk memenuhi target-target keluarga yang ingin dicapai.
" Menurut penelitian, kemampuan memilih alat kontrasepsi pada akhirnya bisa mempengaruhi pendapatan dan kesehatan mental karena memiliki anak di saat yang lebih matang dan siap," tutup Febria Indra Hastati, Psikolog Brawijaya Clinic.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
