Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kita semua sering menyentuh wajah berkali-kali setiap hari. Saat hidung gatal, mata lelah, dan membersihkan mulut dengan punggung tangan. Menyentuh wajah secara terus-menerus dapat meningkatkan rssiko terinfeksi virus flu, terutama virus corona.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, Covid-19 ditularkan dari orang ke orang seperti infeksi pernapasan lainnya. Melalui cairan (droplet) yang dihasilkan ketika seseorang bersin dan terhirup oleh orang lain.
Termasuk juga ketika menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus menggunakan tangan yang nantinya akan menyentuh mata atau mulut. Meskipun kita bisa menghindar dari orang yang sakit atau denga menggunakan masker, tetapi kita sulit untuk menghindari tangan memegang sesuatu.
Dalam penelitian 2008, diamati sebanyak 10 orang di lingkungan perkantoran selama 3 jam. Peneliti menemukan bahwa mereka menyentuh wajah rata-rata 16 kali per jam. Kebiasaan ini harus dikurangi.
Jika tak bisa dikurangi maka harus cuci tangan sesering mungkin. Hal tersebut hanya bisa membantu jika kita juga menghindari menyentuh wajah karena kita tidak tahu kapan tangan berpotensi membawa virus.

Menyentuh wajah akan membuat kemungkinan untuk terkontaminasi ulang tangan kita sangat tinggi. Zachary Sikora, PsyD, seorang psikolog di Northwestern Medicine Huntley Hospital, di Huntley, Illinois, memiliki tips untuk menghindari menyentuh wajah demi menghindari penularan Covid-19.
“ Ingat selalu bahwa kita ingin menjauhkan tangan dari wajah. Denga memberikan jeda dapat membantu menyadari apa yang akan kita lakukan dengan tangan kita,” katanya
Dia juga menyarankan menggunakan handsanitzer beraroma atau sabun beraroma untuk membantu mengingatkan diri agar menjauhi tangan dari wajah karena bau akan menarik perhatian. Sikora mengatakan mengenakan sarung tangan bisa jadi alternatif agar tangan tidak terkontaminasi virus.
Laporan Cindy Azari/ Sumber: Healthline
Dream - Achmad Yurianto, juru bicara yang ditunjuk pemerintah untuk menjelaskan soal detail kasus corona virus (Covid-19) pada Selasa 17 Maret 2020, mengungkap tak semua pasien positif corona harus dirawat di rumah sakit.
Pada mereka yang kondisinya tidak parah bisa melakukan isolasi di rumah. Yurianto juga menjelaskan detail cara mengisolasi diri di rumah bagi penderita Covid-19.

" Isolasi di rumah bukan sesuatu yang sulit namun membutuhkan komitmen yang kuat dari pasien dan keluarganya. Pasien ini harus memakai masker selama menjalani isolasi rumah," ungkapnya.
Hal yang juga sangat penting adalah pasien harus menjaga jarak dengan seluruh anggota keluarga lain di rumah. Termasuk tidak menggunakan alat makan dan minum bersama.
" Pastikan cukup istirahat, asupan gizinya cukup, dan kemudian juga menjaga betul untuk tidak kontak dekat tanpa perlindungan dengan anggota keluarga," pesan Yurianto.
Tidur di kamar sendirian dan tak ada orang lain di ruangan tersebut akan sangat baik. Hal terpenting adalah tidak menularkan orang lain dan menjaga sistem kekebalan tubuh bekerja optimal.
Dream - Tubuh sudah dibuat sedemikian rupa oleh Allah SWT memiliki sistem imunitasnya sendiri. Sel tubuh bakal mengenali virus dan bakteri, dan menjadi modal penting untuk melawan penyakit.
Pada beberapa orang ada yang mudah jatuh sakit, sementara ada juga yang tidak. Hal ini sangat dipengaruhi oleh sistem kekebalan atau imunitas yang dimiliki. Hal ini juga berlaku pada virus corona (Covid-19).

Mungkin Sahabat Dream penasaran, mengapa beberapa pasien bisa jadi kritis dan sebagian lagi tidak? Dikutip dari New York Times, sekitar 80 persen orang terinfeksi virus Covid-19 memiliki gejala yang relatif ringan.
Sementara sekitar 20 persen pasien dalam kondisi yang berat. Para ahli mengatakan efeknya tergantung pada seberapa kuat atau melemahnya sistem kekebalan seseorang. Orang yang lebih tua di atas 50 tahun atau mereka yang memiliki masalah kesehatan seperti diabetes atau penyakit kronis lainnya lebih cenderung mengembangkan gejala yang parah.

" Salah satu pasien, seorang wanita berusia 84 tahun dengan diabetes, meninggal karena pneumonia yang disebabkan oleh coronavirus," kata Dr. Shu-Yuan Xiao, seorang profesor patologi di Fakultas Kedokteran Universitas Chicago, Amerika Serikat.
Bisa juga setelah terserang virus Covid-19, pasien stabil selama beberapa hari. Namun setelah mengalami penurunan kondisi signifikan, karena daya tahan tubuhnya tak dijaga dengan baik.

" Beberapa pasien dapat tetap stabil selama lebih dari seminggu dan kemudian tiba-tiba terserang pneumonia," kata Dr. Xiao.
Beberapa pasien di China yang sembuh dari Corona juga diketahui kembali mengalami keluhan setelahnya. Hal ini karena virus Covid-19 telah merusak jaringan paru-paru yang rentan diserang oleh bakteri. Beberapa pasien bahkan akhirnya meninggal karena infeksi bakteri, bukan karena virus.
Laporan Cindy Azari
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya