Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Seorang Siswa Bereaksi Saat Disuntik Vaksin TD (Tetanus-Dipteri) Di SD Islam Terpadu, Malang, Jawa Timur, (ANTARAFOTO/Arii Bowo Sucipto)
Dream - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan pemerintah saat ini sedang menyiapkan vaksin Tuberculosis (TB) terbaru. Sebelumnya, vaksin Tuberculosis yang dipakai Indonesia adalah vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin)
Kepala Balitbangkes Kemenkes RI, Dr Siswanto menjelaskan pengembangan baru ini merupakan hasil kinerja dari konsorsium vaksin yang sudah berjalan enam tahun. Sebelumnya, konsorsium ini bernama Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) dan kini berubah menjadi Forum Riset Life Science (FRLN).
" Kami serahkan hari ini kepada Biofarma terkait pengembangan vaksin TB generasi berikut. Vaksin TB saat ini kan BCG, the whole bactery yang dilemahkan, sedangkan ini yang kita serahkan yakni pengembangan vaksin genetik rekombinan," kata Dr Siswanto, di Grand Sheraton Hotel, Gandaria City, Jakarta, Kamis 25 Agustus 2016.
Siswanto mengatakan vaksin TB generasi baru ini memiliki kemampuan antibodi yang lebih tepat saat disuntikan ke tubuh.
" Bahan dasar vaksin ini diambil dari antigen saya sehingga otomatis lebih spesifik dalam merangsang antibodi," tuturnya.
Direktur Utama Biofarma Iskandar menambahkan genetik rekombinan yang diserahkan Kemenkes ibarat benih yang nantinya akan diperbanyak.
Perusahaan selanjutnya akan melakukan uji melalui riset dengan pengujian produk vaksin tersebut. Hanya saja uji riset tersebut membutuhkan waktu sebelum diedarkan dan dipasarkan ke masyarakat.
" Nanti kita pilih lagi, kita buat 'super'-lah benih ini. Sehingga nantinya bisa diproduksi dan dipasarkan ya sekitar 5 sampai 6 tahun lagi karena riset ini kan juga butuh waktu panjang," katanya.
Dalam proses pengujian, perusahaan juga akan mengikuti standar WHO agar bisa dijual sampai keluar negeri. Seraya berharap vaksin ini dapat dilepas dengan harga terjangkau untuk masyarakat.
" Kita lebih murah. Kita mengikuti standar yg diberikan WHO, global dan dunia. Tanpa kualitas seperti itu jangan harap bisa menjual keluar," ucap Iskandar. (Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya