Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kasubdit Pendidikan Kesetaraan Sarpani Mewakili Direktur Pendidikan Diniyah Dan Pondok Pesantren Menerima Cinderamata Dr Delegasi Pakistan (Foto: Istimewa)
Dream - Pakistan akan menggelar studi banding di pondok pesantren Salafiyah di Bandung, Jawa Barat, Rabu, 13 Maret 2019. Studi banding tersebut digelar dalam rangka upaya meningkatkan pendidikan non-formal yang berkualitas di Pakistan.
Kepala Penasihat Japan Internasional Cooperation Agency (JICA)-Advancing Quality Alternative Learning (AQAL) Project Pakistan, Chiho Ohashi menyebut, saat ini anak-anak putus sekolah di Pakistan berjumlah 22,8 juta jiwa. Usia anak-anak putus sekolah itu berada di rentang 5 hingga 16 tahun.
Sementara itu, Pakistan juga merupakan negara dengan tingkat buta aksara usia di atas 10 tahun yang tinggi.
“ Dan ini terus meningkat setiap tahunnya,” kata Chiho," dalam keterangan resminya, Selasa, 12 Maret 2019.
Selain kunjungan ke pesantren salafiyah, proyek yang didukung pemerintah Jepang itu juga akan mempelajari Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM).
“ Untuk itulah kunjungan ini dirancang untuk belajar membuat kebijakan, standar kurikulum secara efisien pada usia sekolah dasar dan menengah,” ucap dia.
Chiho mengatakan, Indonesia dipilih karena pengalamannya menginisiasi pendidikan non-formal.
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Pontren) Kementerian Agama, Ahmad Zayadi menyambut baik inisiasi ini. Zayadi menyebut, proses belajar mengajar yang diselenggarakan di pesantren salafiyah telah menjadi alternatif pendidikan bagi masyarakat yang tidak terjangkau.
" Pendidikan kesetaraan yang diselenggarakan oleh pesantren salafiyah, selama ini telah melayani program pendidikan bagi masyarakat yang selama ini tidak terjangkau oleh layanan pendidikan formal yang ada di negeri ini, melayani yang belum terlayani, reach the unreach, menjangkau yang selama ini belum terjangkau oleh layanan pendidikan formal,” ujar dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya