MUI Imbau Masyarakat Tak Ragu Gunakan Vaksin MR

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Kamis, 27 September 2018 16:01
MUI Imbau Masyarakat Tak Ragu Gunakan Vaksin MR
MUI telah membolehkan imunisasi MR hingga ditemukan adanya vaksin pengganti yang halal.

Dream - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid Sa'adi, kembali menyatakan vaksin Measless-Rubella (MR) boleh digunakan. Ini lantaran adanya faktor keterdesakan untuk mencegah merebaknya kasus terjangkiti MR.

" Ada kondisi keterpaksaan (darurat syar'iyyah), vaksinat itu dibolehkan," ujar Zainut melalui keterangan tertulis diterima Dream, Kamis 27 September 2018.

Zainut mengakui vaksin MR yang tersedia saat ini merupakan produk dari Serum Institute of India. Menurut dia, belum ada produk halal yang dikeluarkan perusahaan tersebut.

Terkait dengan penggunaan vaksin MR, MUI telah mengeluarkan Fatwa Nomor 33 Tahun 2018. Fatwa tersebut membolehkan penggunaan vaksin MR dengan alasan darurat.

Sebelum mengeluarkan fatwa tersebut, kata Zainut, MUI terlebih dulu meminta keterangan dari ahli. Dari keterangan para ahli, didapat kesimpulan apabila imunisasi MR tidak dijalankan dapat menimbulkan bahaya.

" (Vaksin MR) tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci," kata dia.

Untuk itu, MUI mendesak pemerintah dan produsen vaksin segera membuat produk halal untuk kepentingan imunisasi.

" MUI juga mengimbau kepada masyarakat luas, dengan adanya Fatwa MUI tersebut tidak perlu ragu untuk melaksanakan imunisasi vaksin MR demi melindungi anak-anak kita dari bahaya penyakit yang tidak kita inginkan," kata Zainut.(Sah)

1 dari 4 halaman

KH Ma`ruf Amin: Rubella Sangat Berbahaya, Vaksin MR Wajib

Dream - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Ma'ruf Amin, menegaskan penggunaan vaksin Measles-Rubella (MR) menjadi wajib. Hal itu jika kondisi sudah dinyatakan bahaya.

" Menurut informasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Rubella ini sangat berbahaya. Kalau bahaya itu diyakini, kalau bahasa ulama, artinya memang bahaya, merupakan kewajiban," ujar Ma'ruf, dikutip dari nawalaksp.id, Rabu 19 September 2018.

Ma'ruf mengatakan, sebenarnya MUI sudah mengeluarkan fatwa terkait vaksin pada 2016. Dalam fatwa Nomor 4 Tahun 2016, MUI memutuskan hukum melakukan imunisasi untuk mencegah yang mengancam dan dapat menimbulkan kecacatan berkelanjutan bukan hanya mubah, namun menjadi wajib.

Apalagi jika berdasarkan pertimbangan masa depan. Contohnya, merusak generasi muda Indonesia.

" Kala generasi muda Indonesia akan seperti itu, kita akan menjadi bangsa yang lemah, akan kalah berkompetisi dengan bangsa lain," kata Ma'ruf.

 

2 dari 4 halaman

Sayangkan Sikap Kemenkes

Dream - Meski begitu, Ma'ruf menyayangkan sikap Kemenkes yang tidak meminta fatwa secara langsung kepada MUI. Padahal, imunisasi sudah berjalan selama dua tahun.

" Selama dua tahun itu, 2016-2018, tidak ada fatwa kehalalan," kata dia.

Baru pada 2018, terang Ma'ruf, ada fatwa mengenai vaksin Rubella. Itu juga dengan dasar kedaruratan dan belum ada pengganti vaksin yang halal.

" Hukumnya, ada kebolehan sesuatu yang dilarang. Yang dilarang, jika darurat, diperbolehkan," ucap Ma'ruf.

Lebih lanjut, Ma'ruf merasa prihatin dengan capaian imunisasi MR yang saat ini baru 48 persen. Dia menekankan harus ada upaya mellibatkan sejumlah pihak agar imunisasi ini berjalan maksimal.

" Kami, MUI, sudah mengeluarkan dua fatwa dan kami siap menyukseskan vaksin Rubella ini," terang dia. (ism)

3 dari 4 halaman

MUI: Vaksin MR Mengandung Unsur Babi, tapi Boleh Digunakan

Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang membolehkan penggunaan vaksin measles rubella (MR) dari Serum Institute of India (SII), meskipun mengandung unsur babi. Fatwa tersebut diambil karena kondisi darurat.

“ Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII), pada saat ini dibolehkan (mubah),” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni'am Sholeh, dikutip dari Liputan6.com, Selasa 21 Agustus 2018.

Ada tiga dasar yang digunakan oleh MUI dalam membolehkan penggunaan vaksin MR. Pertama, karena ada kondisi dlarurat syar'iyyah (keterpaksaan). Ke dua, belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci.

Ke tiga, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi.

4 dari 4 halaman

Fatwa Gugur Bila Ada Vaksin Halal

Keputusan ini dituangkan dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR Produk Dari SII untuk Imunisasi yang diterbitkan di Jakarta, Senin 20 Agustus 2018.

Namun, “ Kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci,” imbuh Asrorun Ni’am.

Selain itu, MUI tetap meminta pemerintah menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi masyarakat. Produsen vaskin juga diharuskan mengupayakan produksi vaksin yang halal, dan mensertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

MUI meminta pemerintah menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan imunisasi dan pengobatan. Pemerintah juga harus mengupayakan secara maksimal melalui Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan negara-negara berpenduduk muslim agar memerhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang suci dan halal.

Beri Komentar
Detik-Detik Jokowi Umumkan Kabinet Indonesia Maju