Pemerintah Bakal Perpanjang PPKM Jawa-Bali

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 20 Januari 2021 18:01
Pemerintah Bakal Perpanjang PPKM Jawa-Bali
PPKM atau pembatasan ketat Jawa-Bali tahap pertama akan berakhir pada 25 Januari nanti.

Dream - Kasus Covid-19 dalam beberapa hari terakhir menunjukkan lonjakan sangat tinggi, sehingga pemerintah berencana memperpanjang Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Jawa-Bali.

" Jawa-Bali sudah ditetapkan untuk PPKM dan angka terakhir belum menunjukkan penurunan angka positive rate yang signifikan dan akan diperpanjang, hasil rapat kabinet terbatas kemarin sore," ujar Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, dalam channel YouTube Livestreaming Kemendagri.

PPKM Jawa-Bali akan berakhir pada 25 Januari 2021. Menurut Safrizal, perpanjangan dilaksanakan selama dua pekan setelah tahap pertama PPKM berakhir. " Akan diperpanjang kembali dua minggu ke depan sampai dengan angka menunjukkan penurunan atau pelandaian," kata dia.

1 dari 5 halaman

Daerah Diminta Evaluasi

Safrizal meminta daerah dengan kasus positif meninggi untuk melakukan evaluasi penanganan Covid-19. Juga menjalankan upaya perbaikan.

" Kepada daerah tersebut diminta karena masih dalam kaitan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri untuk melakukan hal-hal atau melakukan perbaikan-perbaikan improve di dalam penanganan kesehatan," kata dia.

Pemerintah daerah juga diminta meningkatkan kapasitas fasilitas kesehatan. Sehingga indikator yang telah ditetapkan pemerintah sepenuhnya dapat dipenuhi.

" Seperti indikator kesembuhan dengan memperbaiki beberapa kapasitas kesehatan serta menaikkan kapasitas rumah sakit jika angka yang ditentukan sudah terlampaui," ucap Safrizal.

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 5 halaman

Pemicu Kenaikan Data Angka Kasus Baru Covid-19

Dream - Dalam beberapa hari belakangan, data kasus Covid-19 mengalami lonjakan sangat tinggi. Penambahan kasus baru mencapai rekor teratas sebanyak 14.224 pada akhir pekan kemarin (Sabtu, 16 Januar 2021).

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan lonjakan tersebut terjadi akibat keterlambatan verifikasi dari daerah. Data terlambat masuk sehingga terjadi penumpukan.

" Verifikasi data yang terlambat masuk sehingga menyebabkan penumpukan pada pelaporan data di beberapa daerah," ujar Wiku dalam konferensi pers disiarkan channel YouTube BNPB.

 

 

3 dari 5 halaman

Wiku menegaskan pemerintah pusat dan daerah sedang berupaya melakukan perbaikan sistem verifikasi data Covid-19. Diharapkan upaya ini dapat mengurangi perbedaan data antara pemerintah pusat dan daerah.

" Saya minta ke depannya tidak ada lagi toleransi atau delay keterlambatan data karena ini sangat krusial dalam pengambilan keputusan," ucap Wiku.

Dia pun kembali mengingatkan pentingnya kesesuaian data antara pusat dan daerah karena menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan terkait penanganan Covid-19.

" Dengan data yang tidak real time maka kebijakan yang dikeluarkan tidak tepat waktu sehingga menjadi tidak efektif," ucap dia.


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

4 dari 5 halaman

Dugaan Ridwan Kamil Soal 25 Relawan Uji Klinis Terpapar Covid-19

Dream - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memimta masyarakat tidak membuat opini mereesahkan soal kasus 25 relawan uji klinis vaksin Covid-19 fase III buatan Sinovac yang terpapar Covid-19.

Sebagai relawan yang ikut dalam uji klinis di Bandung itu, Ridwan mengatakan separuh subjek penelitian memang diberi vaksin dan sisanya disuntik plasebo. Metode penelitian ini sengaja dilakukan untuk efikasi atau tingkat keampuan dari vaksin buatan Sinovac Biotech Ltd itu.

" Jadi kalau nanyanya urusan kedokteran jangan tanya ke saya. Tapi sebagai sesama relawan, mungkin saja karena plasebo adalah cairan netral yang tidak memengaruhi maka mungkin saja kelompok yang positif itu bukan kelompok yang disuntik vaksin bukan plasebo," ujarnya di Makodam III/Siliwangi, Kota Bandung, Senin 18 Januari 2021.

5 dari 5 halaman

Telusuri Kasus Infeksi

Lebih jauh Emil mengatakan, kalaupun ada relawan yang diberi vaksin kemudian terpapar Covid-19, harus dilihat kembali riwayat terinfeksinya.

" Harus dulu dilihat jadwal kena covidnya karena tim dokter menyatakan kepada saya dan Pak Pangdam (relawan uji klinis), antibodinya itu muncul tiga bulan setelah suntik kedua," tuturnya.

Berdasarkan pengalamannya, Emil disuntik pertama pada akhir Agustus dan mendapat suntikan kedua sekitar September. Dalam rentang waktu September ke Desember tersebut, kata dia, ada proses terbentuk antibodi.

" Jadi mungkin saja sebelum H30 dia terkena," ungkap Emil.

Beri Komentar