Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Untuk mencapai kepuasan seksual atau orgasme, pasangan suami-istri tentunya membutuhkan stimulasi yang intensif.
Namun hal ini tak berlaku pada Maria (61) seorang janda dari Glasgow, Skotlandia.
Puncak kepuasan seksual bisa didapatkannya kapan saja dan tiba-tiba. Misalnya saat sedang menyetir dan melewati lubang, duduk di pesawat, bahkan ketika menaiki esklator.
Maria diidentifikasi mengalami PGAD (Persistent Genital Arousal Disorder). Ia bisa merasakan orgasme kapan pun. Bahkan ketika tidak merasakan hasrat seksual sekalipun.

" Sembilan puluh persen dari hidup saya telah hancur. Saya kadang benar-benar harus diam agar dapat 'mematikan' kepuasan tersebut," kata Maria, seperti dikutip dari Metro.co.uk.
Kondisi tersebut tentu membuatnya sangat tidak nyaman. Maria kehilangan kepercayaan diri karena tak bisa mengontrol tubuhnya.

Ia juga merasa sangat malu, apalagi jika sedang berada tempat umum. Kondisi kesehatan psikologisnya juga jadi bermasalah.
Untuk mengatasi PGAD, Maria melakukan berbagai cara. Ia menggunakan gel, melakukan fisioterapi panggul bahkan melakukan suntikan steroid di organ intim.

Sederet cara tersebut tak berhasil menghentikan PGAD yang dialaminya.
Maria curiga masalah PGAD yang dialaminya dipicu karena pemeriksaan ginekologi rutin yang dilakukannya di sebuah rumah sakit di Glasgow pada 2017. Saat itu ia mengalami masalah mengompol yang tak terkendali.

Dokter menyarankan untuk melakukan suntik botoks di area intimnnya tapi ia takut untuk melakukannya. Pemeriksaan pun dilakukan menggunakan spekulum. Setelah itu, bulan berikutnya ia mengalami orgasme tak terkendali.
Setelah mengalami 'serangan kepuasan' beberapa kali, Maria pun memeriksakan diri ke dokter. Diketahui kalau terdapat kerusakan di saraf pudendalnya.
Pengobatan pun dilakukan tapi kunjung berhasil. Ia berencana untuk berobat ke luar negeri tapi pihak dewan kesehatan setempat tak mengeluarkan izin.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang