Singgung Imunisasi MR, Ini Pilihan Ustaz Abdul Somad

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 12 September 2018 17:00
Singgung Imunisasi MR, Ini Pilihan Ustaz Abdul Somad
Ustaz Abdul Somad menyatakan lebih baik memilih mudharat terendah.

Dream - Ustaz Abdul Somad turut memberikan tanggapan terkait status imunisasi dalam sudut pandang Islam. Meski banyak yang menolak imunisasi terutama vaksin Measless-Rubella (MR) karena dianggap mengandung unsur babi, Ustaz Somad menyatakan pendapat berbeda. 

Menurut Somad hukum imunisasi memang belum ditegaskan. Apalagi MUI juga belum mengeluarkan fatwa halal imunisasi MR. Namun jika kondisinya sangat terpaksa, Somad memilih untuk melakukan vaksinasi.

" Adapun tentang bahwa dia (vaksin) diambil dari babi atau segala macam, kalau memang penyakit yang dikhawatirkan itu menimbulkan risiko tertinggi mati, antara dua. Mati sama babi pilih mana? Pilih babi, tak boleh pilih mati!" ujar Somad dalam video ceramah yang diunggah di akun Youtube, diakses pada Rabu, 12 September 2018.

Somad mengibaratkan kondisi ini seperti seseorang yang masuk hutan dan hanya ada dua kemungkinan yaitu bertahan hidup dengan makan babi atau mati. Secara tegas dia menyatakan makan babi dibolehkan.

" Itu nama hukumnya akhafudl dlararin, memilih dua mudharat," kata dia.

Lebih lanjut, kata Somad, kaidah hukum ini menyatakan memilih satu di antara dua mudharat. Tentu mudharat yang dipilih memiliki kadar bahaya yang lebih rendah.

" Boleh memilih mudharat terendah," ucap Somad.

1 dari 4 halaman

MUI: Vaksin MR Mengandung Unsur Babi, tapi Boleh Digunakan

Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang membolehkan penggunaan vaksin measles rubella (MR) dari Serum Institute of India (SII), meskipun mengandung unsur babi. Fatwa tersebut diambil karena kondisi darurat.

“ Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII), pada saat ini dibolehkan (mubah),” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni'am Sholeh, dikutip dari Liputan6.com, Selasa 21 Agustus 2018.

Ada tiga dasar yang digunakan oleh MUI dalam membolehkan penggunaan vaksin MR. Pertama, karena ada kondisi dlarurat syar'iyyah (keterpaksaan). Ke dua, belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci.

Ke tiga, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi.

2 dari 4 halaman

Fatwa Gugur Bila Ada Vaksin Halal

Keputusan ini dituangkan dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR Produk Dari SII untuk Imunisasi yang diterbitkan di Jakarta, Senin 20 Agustus 2018.

Namun, “ Kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci,” imbuh Asrorun Ni’am.

Selain itu, MUI tetap meminta pemerintah menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi masyarakat. Produsen vaskin juga diharuskan mengupayakan produksi vaksin yang halal, dan mensertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

MUI meminta pemerintah menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan imunisasi dan pengobatan. Pemerintah juga harus mengupayakan secara maksimal melalui Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan negara-negara berpenduduk muslim agar memerhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang suci dan halal.

3 dari 4 halaman

Fatwa MUI Pertegas Status Kebolehan Penggunaan Vaksin MR

Dream - Penggunaan vaksin Measles Rubella (MR) sempat menuai polemik usai keluarnya fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR (Measles Rubella) Produk dari SII (Serum Institute of India) untuk Imunisasi pada Senin, 20 Agustus 2018

Dalam fatwa tersebut, MUI mengatakan vaksin MR produksi SII haram karena menggunakan bahan yang berasal dari babi. Meski demikian, MUI menetapkan hukum penggunaan vaksin tersebut adalah mubah atau boleh.

Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek, mengatakan fatwa MUI memberikan kejelasan bagi masyarakat agar tidak ragu lagi menggunakan vaksin MR untuk imunisasi anak.

" Imunisasi sangat bermanfaat untuk menjauhkan kita dari mudarat yang bisa mengancam jiwa anak-anak kita, melindungi generasi agar tumbuh menjadi bangsa yang sehat, cerdas, kuat serta membawa maslahat untuk umat," kata Nila, dikutip dari Liputan6.com.

Usai diterbitkannya fatwa tersebut, Kemenkes bersama MUI menindaklanjuti dengan pertemuan bersama pada Kamis sore, 23 Agustus 2018. Pertemuan ini merupakan salah satu cara untuk menyosialisasikan kebolehan penggunaan vaksin MR.

4 dari 4 halaman

Bisa Dipakai Meski Menggunakan Bahan Babi

Dirjen P2P Kemenkes, Anung Sugihantono, mengatakan, vaksin MR tidak mengandung DNA babi meski diproduksi dengan bahan yang berasal dari babi.

" Baca secara utuh, mengandung dan bersinggungan dua hal yang berbeda," kata Anung.

Sementara itu, Sekretaris Umum MUI, Asrorun Ni'am Sholeh, mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam membaca fatwa tentang vaksin MR. Terutama pada bagian proses produksi.

Menurut Ni'am, masyarakat perlu memahami perbedaan antara keterangan 'mengandung' dengan 'bersinggungan' babi. Dia menegaskan sesuai fatwa MUI, vaksin MR dari SII haram karena diproduksi menggunakan bahan dari babi meski hasil akhirnya tidak terlihat.

Sedangkan terkait pembolehan pemakaian vaksin ini, MUI mendasarkan pada tiga faktor. Ketiganya yaitu kondisi keterpaksaan (dlarurat syar'iyyah), belum adanya vaksin MR halal dan suci, serta keterangan ahli tentang bahaya yang muncul akibat tidak imunisasi.

" Ini menjadi panduan untuk kegiatan imunisasi serta rujukan agar masyarakat muslim tidak ragu lagi untuk lakukan imunisasi MR yang sudah disediakan pemerintah," kata Ni'am.

Beri Komentar
Intip Harga dan Spesifikasi Mobil Dinas Baru Jajaran Menteri Jokowi