Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Hijaber Saat Di Bandara (Foto: Shutterstock.com)
Tentu agak ribet karena perbedaan waktu membuat pelaksanaan sholat yang berbeda.
Dream - Bepergian sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, terutama di Indonesia. Seringkali orang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya di jarak yang jauh dalam sehari.
Wilayah Indonesia sendiri terbagi dalam tiga zona waktu. Hal ini berpengaruh pada pelaksanaan waktu sholat.
Timbul persoalan terkait pelaksanaan sholat fardlu ketika dalam perjalanan melintasi zona waktu berbeda. Contohnya, terbang dari Jakarta menjelang Maghrib menuju Papua.
Penerbangan membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Ketika mendarat di Papua, waktu Isya sudah berlangsung sejak satu jam sebelumnya.
Terkait persoalan seperti ini, bagaimana cara menjalankan sholat?
Dikutip dari Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat Lc., menjelaskan persoalan ini tergolong sederhana. Tetapi, karena kita tidak terbiasa sehingga terasa rumit.
Ada beberapa cara untuk melaksanakan sholat ketika melintasi zona waktu yang berbeda. Cara pertama yaitu memanfaatkan fasilitas jamak sholat yang sudah ditetapkan oleh syariat.
Menjamak sholat sebenarnya terdapat tiga hukum di dalamnya. Ada yang mengatakan mubah, sunah, dan wajib.
Cara ke dua yaitu menentukan waktu sholat Zuhur dan Ashar dengan memperkirakan pergeseran cahaya matahari. Selama matahari sudah lewat di atas kepala dan belum tenggelam, kita bisa menjamak sholat.
Sebaiknya sholat di-ta'khir saja. Pertimbanganya, waktu Ashar mudah dikenali lantaran matahari sudah ada di ufuk barat.
Sedangkan untuk waktu Maghrib dan Isya', sebaiknya juga di-ta'khir. Caranya dengan menunggu 1-2 jam setelah matahari terbenam.
Sementara untuk menentukan waktu Subuh, cukup dengan melihat apakah gelap sudah mulai hilang atau belum.