6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Source: Shutterstock.com
Dream - Adanya vaksin membuat sebagian orang lega karena bisa mendapatkan perlindungan diri dari virus Covid-19.
Namun, masih ada perdebatan seputar aturan yang berlaku setelah divaksin. Perlukah seseorang melaksanakan 3M (mencuci tangan, memakai masker dan menjauhi kerumunan) setelah divaksin?
Bukankah tubuh sudah kebal setelahnya? Ternyata, tubuh tidak akan langsung membentuk pertahanan tubuh terhadap Covid-19.
Bahkan, mantan penderita Covid-19 saja masih bisa kembali positif. Sehingga ada atau tidaknya vaksin maupun antibodi, semua orang harus tetap melaksanakan protokol kesehatan.
Antibodi atau saat pandemi Covid-19 disebut plasma convalescent ini berasal dari mantan penderita virus tersebut dan bisa diberikan pada pengidap penyakit serupa yang bergejala berat.
Sedangkan vaksin merupakan antigen yang dapat memicu tubuh untuk memproduksi antibodi. Kekebalan tubuh bisa terbentuk setelah divaksin dua kali dengan jarak 2 minggu.
" Setelah vaksin kedua diberikan pun, wajib menjaga kondisi badan dan prokes minimal dua minggu, bukan bebas bepergian. Memerlukan waktu untuk menciptakan antibodi, kata Koordinator Sub Divisi Imunisasi Divisi Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 Jawa Barat, Panji Fortuna dilansir dari Merdeka.com, Sabtu 16 Januari 2021.
Meski telah tersedia, persediaan vaksin belum merata di seluruh Indonesia. Antibodi pada kelompok baru diperkirakan terjadi setelah 70 persen populasi divaksin.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream – Vaksin COVID-19 Sinovac resmi digunakan masyarakat Indonesia sejak Rabu, 13 Januari 2021 kemarin.
Seluruh masyarakat Indonesia akan mendapatkan vaksin dan Presiden RI Joko Widodo mengatakan vaksin ini gratis. Namun, sebelum membahas vaksin lebih lengkap, alangkah baiknya memahami kegunaan vaksin itu sendiri.
Jadi, sebenarnya apa sih fungsi vaksinasi?
Dalam proses pembuatannya, vaksin melewati tiga fase dengan pengujian yang ketat. Awalnya, setiap vaksin dikembangkan harus menjalani pemeriksaan dan evaluasi untuk menentukan antigen mana yang harus digunakan untuk memicu respon kekebalan tubuh.
Selanjutnya, vaksin akan diuji pada hewan untuk mengevaluasi potensi dan keamanannya dalam mencegah penyakit. Terakhir, jika berhasil memicu respon kekebalan, vaksin akan melewati uji klinis pada manusia.
Fungsi vaksin sendiri bisa membantu mencegah terinfeksi virus COVID-19 dan mengurangi penyebarannya, dengan vaksinasi membuat tubuh manusia kebal akan virus tersebut.
Selanjutnya, yuk kita bahas bahan baku dari vaksin corona secara umum, dikutip dari SehatQ.
Sejumlah vaksin COVID-19 menggunakan virus tidak aktif sebagai bahan bakunya.
Berdasar informasi World Health Organization (WHO), penelitian mengambil sampel virus COVID-19 dari pasien yang terinfeksi, kemudian virus tersebut dinonaktifkan dengan menggunakan panas, bahan kimia atau radiasi.
Selanjutnya virus yang sudah mati dicampurkan dengan beberapa senyawa yang bisa meningkatkan respon terhadap vaksin. Nantinya saat disuntikan bahan baku vaksin ini akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap virus.
Pengembang vaksin COVID-19 yang menggunakan bahan baku ini antara lain; Sinovac, Sinopharm, Sinopharm-Wuhan, dan Bharat Biotech.
Bahan baku ini berasal dari bagian virus yang sangat spesifik, perlu diketahui bahwa virus Sars-Cov-2 dipenuhi dengan protein yang digunakan untuk memasuki sel tubuh manusia.
Vaksin dengan bahan baku ini bekerja dengan mengajarkan sistem imun untuk menghasilkan antibodi bagi protein vrus COVID-19.
Pengembang vaksin COVID-19 yang menggunakan bahan baku ini antara lain; Novavax, dan Vector Institute.
© © Shutterstock
Bahan baku vaksin COVID-19 ini adalah materi genetik yang dibaca sel-sel tubuh kita untuk menghasilkan protein virus COVID-19 atau SARS-CoV-2 adalah jenis virus RNA (ribonucleic acid), yaitu virus dengan materi genetik berantai tunggal.
mRNA tergolong rapuh dan dibelah menjadi potongan kecil oleh enzim tubuh kita jika disuntikkan langsung ke tubuh.
Untuk melindunginya, perusahaan yang membuat vaksin ini membungkus mRNA dalam media berminyak yang terbuat dari nanopartikel lipid.
Setelah menerima vaksin, beberapa protein berujung runcing (spike proteins) yang dihasilkan virus corona membentuk ujung sel lainnya yang berpindah ke permukaan sel dan menancapkan ujungnya.
Sel-sel tubuh yang mendapatkan vaksin juga akan memecah beberapa protein tersebut menjadi serpihan-serpihan kecil yang berada di permukaanya.
Ujung protein yang menonjol dan serpihan protein ini kemudian dapat diidentifikasi dan direspon sistem kekebalan tubuh kita.
Pengembang vaksin COVID-19 yang menggunakan bahan baku ini antara lain; Pfizer-BioNTech dan Moderna.
Bahan baku hasil modifikasi adenovirus ini, para peneliti dalam pembuatannya menambahkan gen virus (DNA) ke virus lain yang disebut adenovirus (virus penyebab flu atau pilek).
Setelah disuntikkan, gen ini akan dibaca dan disalin ke dalam molekul mRNA, kemudian akan membuat protein spike dari virus corona.
Nantinya, sistem kekebalan tubuh akan terangsang untuk menghasilkan antibodi dan bahkan bisa bereaksi lebih kuat dengan mengirimkan sinyal peringatan untuk mengaktifkan sel kekebalan.
Pengembang vaksin COVID-19 yang menggunakan bahan baku ini antara lain; Oxford-AstraZeneca.
© © Shutterstock
Para peneliti menambahkan gen virus corona ke jenis adenovirus, yaitu Ad5 atau Ad26 untuk direkayasa. Kelak, saat disuntikkan ke dalam tubuh, bahan ini akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi.
Bahan baku ini sama dengan ChAdOx1 yang berasal dari adenovirus.
Pengembang vaksin COVID-19 yang menggunakan bahan baku ini antara lain; Casino, Johnson&Johnson, dan Gamaleya.
(DR, Laporan: Josephine Widya)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya