Kuba Mengaku Punya Calon Vaksin Corona, 72% Pasien Kritis Diklaim Sembuh

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Minggu, 7 Juni 2020 06:01
Kuba Mengaku Punya Calon Vaksin Corona, 72% Pasien Kritis Diklaim Sembuh
Pemerintah Kuba berhasil mengembangkan vaksin virus corona dengan mengobati 58 pasien termasuk mereka yang memiliki kondisi parah dan kritis.

Dream - Di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia, banyak negara berlomba-lomba mengembangkan vaksin dari virus yang ditemukan pertama kali di Wuhan, China. Kabar mengejutkan datang dari Kuba yang mengaku telah menemukan vaksin dengan tingkat keberhasilan tinggi.

Menurut laporan aa.com, pemerintah Kuba mengklaim telah berhasil mengembangkan vaksin virus corona dengan mengobati 58 pasiennya. Bahkan vaksin yang diklaim menjanjiakn ini telah dipergunakan kepada pasien yang bertatus parah dan kritis.

Verena Muzio, Kepala Pusat Rekayasa Genetika dan Bioteknologi (CIGB), mengatakan kepada program televisi Mesa Redonda, vaksin Covid-19 itu diberi nama CIGB 258 dan diklaim memiliki tingkat kelangsungan hidup 84 persen persen.

Muzio juga menjelaskan 72 persen pasien kritis dan 90 persen kasus Covid-19 parah dapat sembuh dari virus dengan perawatan vaksin CIGB 258.

Saat ini Kuba memiliki 2.107 kasus virus korona dan 83 kematian, sementara pemulihan mendekati angka 2.000, menurut data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University yang berbasis di AS.

 

1 dari 5 halaman

Brasil Tak Mau Ketinggalan

Sementara itu, Badan Pengawasan Kesehatan Brasil (Anvisa) akan berpartisipasi dalam fase pengujian vaksin yang dikembangkan oleh Universitas Oxford, menjadi " negara pertama tempat vaksin itu digunakan diluar Inggris," menurut laporan Rabu.

Pengujian vaksin tersebut akan melibatkan 2.000 pasien corona di Brasil. Negeri Samba ini telah menjadi pusat pandemi di Amerika Latin dan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kasus dan kematian, sementara sebagian besar dunia berada dalam fase menurun.

Brasil melaporkan kasus positif Corona lebih dari 584.000 kasus - jumlah tertinggi kedua secara global setelah AS, dan lebih dari 32.500 kematian.(sah)

2 dari 5 halaman

Negara Lain Sibuk Cari Vaksin, Rusia Klaim Siap Edarkan Obat Covid-19

Dream - Saat negara lain di dunia masih berkutat menemukan vaksin, Rusia mengklaim akan meluncurkan obat untuk menyembuhkan pasien Covid-19.

Rusia ingin segera mempersingkat langkah penting pencegahan penyebaran Covid-19 untuk mengembalikan roda perekonomian agar kembali normal seperti sedia kala.

Dilansir Times of India, beberapa rumah sakit di Rusia akan mulai membagikan obat antivirus Covid-19 dengan nama Avifavir mulai 11 Juni 2020 mendatang.

Dalam sebuah wawancara, kepala Russian Direct Investment Fund (RDIF) Kirill Dmitriev mengatakan perusahaan obat Rusia ChemRar akan mulai memproduksi 60.000 butir setiap bulan.

3 dari 5 halaman

Modifikasi Obat dari Jepang

Hingga saat ini belum ada obat maupun vaksin Covid-19 yang dinyatakan telah lulus uji dan bebas diperjualbelikan Sementara beberapa upaya uji klinis terhadap obat-obatan yang ada belum menunjukkan keefektifannya.

Avifavir, yang lebih dikenal sebagai Favipiravir, pertama kali dikembangkan di Jepang oleh anak perusahaan Fujifilm pada tahun 1990.

Dmitriev mengatakan ilmuwan Rusia telah memodifikasi obat tersebut untuk mengobati pasien Covid-19.

Moskow akan siap membagikan rincian tentang modifikasi terhadap obat itu dalam dua minggu ini.

4 dari 5 halaman

Sebelumnya Jepang telah melakukan uji coba terhadap obat yang sama. Di Jepang, Avifavir disebut dengan Avigan.

Selain dipuji Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, obat Avigan juga mendapat pendanaan pemerintah sebesar US$128 juta.

Sayangnya, dana tersebut masih belum bisa digunakan untuk membiayai penelitian terhadap Avigan.

5 dari 5 halaman

Avifavir sendiri baru masuk dalam daftar obat yang disetujui untuk digunakan mengobati pasien Covid-19 di Rusia pada Sabtu, 30 Mei 2020.

Dmitriev mengatakan uji klinis obat telah dilakukan terhadap 330 orang. Hasilnya menunjukkan bahwa obat itu sebagian besar berhasil mengobati pasien dalam waktu empat hari.

Uji coba itu akan selesai dalam waktu sekitar satu minggu. Tetapi kementerian kesehatan telah memberikan persetujuan untuk penggunaan obat di bawah proses khusus yang dipercepat dan produksi telah dimulai pada bulan Maret.

Dmitriev mengatakan Rusia dapat menyingkat waktu pengujian karena obat itu telah menjalani pengujian signifikan sebelum spesialis Rusia memodifikasinya.

Selain itu, obat yang didasarkan pada Avifavir itu telah didaftarkan pertama kalinya pada tahun 2014 di Jepang.

" Kami percaya (obat) ini adalah pengubah keadaan. Ini akan mengurangi ketegangan pada sistem perawatan kesehatan. Semakin sedikit orang yang mengalami kondisi kritis," kata Dmitriev.

" Kami percaya bahwa obat itu adalah kunci untuk melanjutkan kembali kegiatan ekonomi secara penuh di Rusia," tambahnya.

Beri Komentar